PT Best Profit Futures Malang

Yen Siap Untuk Gain Mingguan Sejak September Terhadap Permintaan Safe Haven

yen_sign_u00A5_icon_256x256

BESTPROFIT FUTURES (24/01) – Mata uang yen bergerak menuju gain mingguan terbesar versus dollar setelah investor melihat keamanan dari asset Jepang yang berada ditengah gejolak dalam market Negara berkembang.

Sedangkan dollar menuju lima hari penurunan terhadap euro seiring dengan data ekonomi yang mixed membayangi outlook untuk otoritas the Fed guna mengurangi stimulus moneter dipekan depan, selain itu mata uang peso Argentina mengalami penurunan terbanyak selam 12 tahun terakhir hingga kemarin, memimpin penurunan diantara mata uang Negara berkembang lainnya.

Pada hari kemarin yen sedikit berubah dilevel harga 103.37 per dollar pada jam 9 pagi di Tokyo ketika melonjak sebanyak 1.2%, mata uang Jepang tersebut sedang bersiap untuk kenaikan mingguan sebesar 0.9%, serta diperdagangkan dilevel harga 141.50 per euro dari level 141.44, turun 0.2% dipekan ini, dengan dollar dilevel harga $1.3688 per euro dari level $1.3696, berada dijalur penurunan sebesar 1.1% sejak tanggal 17 Januari pekan lalu.

Sebuah aksi jual dinegara berkembang kemarin memburuk ditengah pertumbuhan yang lambat dan meningkatnya ketegangan sosial, mata uang peso Argentina turun 12% seiring bank sentral Negara tersebut mempertimbangkan kembali upaya guna mensupport mata uang tersebut dengan penjualan mata uang dollar, sedangkan mata uang lira Turki mengalami rekor penurunan seiring bank sentral mengeluarkan interfensi yang tidak terjadwalkan yang pertama kalinya selama lebih dari dua tahun terakhir.

Sementara di A.S, index Chicago Federal National Activity bulan lalu berada dilevel 0.16, dibandingkan dengan perkiraan level 0.90 dalam survey Bloomberg, dengan pembacaan hasil bulan November yang mengalami revisi dari level 0.69 dari level 0.6.

Laporan lainnya menunjukkan jumlah warga Negara Amerika yang berlanjut menerima tunjangan pengangguran yang naik diluar dugaan ke level 3.06 Juta dalam periode yang berakhir tanggal 11 Januari, merupakan yang terbesar sejak bulan Juli tahun lalu, sementara para ekonom telah memprediksi penurunan dilevel 2.9 Juta. (Bloomberg)