PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: The Fed

Best Profit Malang | Bursa AS Ditutup Sedikit Lebih Tinggi

Best Profit Bestprofit PT Bestprofit

Best Profit Malang (21/9) – S & P 500 dan Dow berakhir sedikit lebih tinggi pada penutupan bursa AS, hari Kamis dinihari tadi, menambah rekor penutupan mereka, setelah Federal Reserve mengisyaratkan bahwa mereka memperkirakan kenaikan suku bunga lagi pada akhir tahun dan mengungkapkan jadwal waktu untuk mengurangi neraca keuangannya.

The Fed meninggalkan suku bunga tidak berubah untuk saat ini, seperti yang telah diantisipasi secara luas, namun ekspektasi investor berubah untuk bulan Desember setelah bank sentral A.S. memberi sinyal kenaikan satu tingkat lagi pada akhir tahun meskipun data inflasi baru-baru menunjukkan pelemahan.

Sejalan dengan ekspektasi Fed mengatakan akan dimulai pada bulan Oktober untuk memotong sekitar $ 4,2 triliun obligasi Treasury A.S. dan kepemilikan sekuritas berbasis mortgage dengan awalnya memotong hingga $ 10 miliar setiap bulan dari jumlah efek jatuh tempo yang diinvestasikan kembali. Best profit

Saham keuangan melonjak setelah pernyataan tersebut karena hasil Treasury A.S. naik pada prospek tingkat suku bunga yang lebih tinggi sementara harga saham sektor utilitas turun karena kekhawatiran bahwa sektor defensif akan terlihat kurang menarik seiring kenaikan suku bunga.

Sementara beberapa investor mengatakan bahwa nada the Fed lebih hawkish daripada yang diperkirakan orang lain dan senang saat Ketua Fed Janet Yellen menegaskan kembali pendiriannya bahwa pengurangan neraca akan bergantung pada data.

Dow Jones Industrial Average .JJI naik 41,79 poin atau 0,19 persen menjadi ditutup pada 22,412,59, mencapai rekor untuk ketujuh kalinya.
S & P 500 .SPX naik 1,59 poin atau 0,06 persen menjadi 2.508,24, mencatat rekor penutupan tertinggi keenam dalam tujuh sesi terakhir. The Nasdaq Composite .IXIC turun 5,28 poin atau 0,08 persen menjadi 6.456,04, dengan Apple Inc (AAPL.O) sebagai hambatan terbesarnya. Best profit

Sektor S & P. Sektor SPSY berakhir 0,6 persen lebih tinggi karena bank mendapat keuntungan dari tingkat yang lebih tinggi. Sektor ini telah meningkat dalam delapan dari sembilan sesi terakhir dan mencatat kenaikan 6,7 persen pada saat investor mengantisipasi pertemuan Fed.
Sektor consumer staples .SPLRCS turun 0,9 persen sementara sektor utilitas .SPLRCU berakhir 0,8 persen lebih rendah.

Saham Apple turun 1,7 persen setelah mengakui smartwatch terbarunya memiliki masalah di konektivitas.
Sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di bursa A.S. dibandingkan dengan rata-rata 6 miliar selama 20 sesi terakhir. Best profit

Sumber : Vibiznews

Bestprofit Malang | Jelang Pertemuan The Fed, Harga Emas

Bestprofit

Bestprofit Malang (19/9) – Harga emas turun 1 persen pada perdagangan Senin dan menyentuh level terendah dalam dua pekan karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil surat utang AS. Penguatan dolar AS dan imbal hasil ini jelang pertemuan Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Selain itu, Wall Street yang mencetak rekor tertinggi dan meredanya ketegangan di Semenanjung Korea juga membuat pelaku pasar melepas aset-aset safe haven yang sebelumnya mereka genggam.

Mengutip Reuters, Selasa (19/9/2017), harga emas di pasar spot turun 1,04 persen ke level US$ 1.305,46 per punce pada pukul 2.05 siang di London. Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember yang merupakan kontrak paling aktif ditutup turun US$ 14,40 atau 1,09 persen menjadi US$ 1.310,8 per ounce.

Harga perak di pasar spot juga turun 2,63 persen ke US$ 17,117 per ounce. Sementara platinum turun 0,99 persen menjadi US$ 954,5 per ounce dan palladium naik 1,42 persen ke US$ 936,1 per ounce.

Pada 8 September lalu, harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan di level US$ 1.357,54 per ounce. Hal tersebut karena pelaku pasar mengambil posisi aman atau memborong aset-aset safe haven karena adanya ketegangan geopolitik di semenanjung Korea dan adanya hantaman Badai Harvey dan Irma di AS.

“Ada banyak spekulasi di emas pada waktu itu, tapi tampaknya sekarang sudah mulai surut,” jelas analis Commerzbank Carsten Fritsch. Saat ini, pelaku pasar sedang menghitung kemungkinan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga.

Para pejabat the Fed bertemu pada Selasa dan Rabu waktu setempat. Investor memperkirakan Fed akan mengumumkan rencana pemangkasan neraca keuangan yang seharusnya mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas.

“Emas tidak lagi mendapat angin saat ini. Logam mulia tersebut kemungkinan akan tertekan,” jelas analis INTL FCStone Edward Meir.

Sumber : Liputan6

PT Bestprofit Malang | The Fed dan Aksi Korea Utara Bayangi

PT bestprofit

PT Bestprofit Malang (4/9) – Harga emas berpotensi menguat selama sepekan. Akan tetapi, pergerakan harga emas masuk area jenuh beli dapat mendorong harga emas tertekan meski terbatas.

Analis melihat harga emas ditransaksikan di atas US$ 1.300 pada pekan lalu dapat mendorong harga emas kembali menguat. Namun, harga emas masuk area jenuh beli sehingga diperkirakan ada tekanan. Namun terbatas lantaran dipengaruhi sejumlah sentimen.

“Risiko politik baik Korea Utara dan limit utang Amerika Serikat serta data tenaga kerja sektor non pertanian membuat dolar Amerika Serikat masih tertekan,” ujar Chief Market Strategist CMC Markets Colin Cieszynski, seperti dikutip dari laman Kitco, Senin (4/9/2017).

Ia menuturkan, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.300-US$ 1.330 dalam jangka pendek. “Ada potensi reli, tapi secara teknikal sudah jenuh beli,” ujar dia.

Pada pekan ini selain isu politik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve menjadi fokus pasar. Hal ini mengingat usai data tenaga kerja non pertanian hanya bertambah 156 ribu pada Agustus dari perkiraan ekonom sekitar 180 ribu. Angka pengangguran juga naik menjadi 4,4 persen. Selain itu, pertumbuhan upah juga stagnan. pt bestprofit

Merespons data ekonomi tersebut, harga emas pun naik ke level tertinggi dalam 11 bulan di kisaran US$ 1.334. Kemudian harga emas ditransaksikan di kisaran US$ 1.329,40 pada Jumat waktu setempat.

Ekonom CIBC Capital Markets Avery Shenfeld menuturkan, the Federal Reserve perlu melihat data inflasi naik sebelum melanjutkan kenaikan suku bunga. Namun data upah Agustus belum dapat berkontribusi.

Hal senada dikatakan Bart Melek, Kepala Riset TD Securities. Ia melihat bank sentral AS belum akan kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. “Bank sentral AS tampaknya tidak agresif apalagi usai data ekonomi di bawah harapan,” kata dia.
Harga Emas Bakal Bertahan di Level US$ 1.300

Kepala Riset London Capital Group LCG Jasper Lawler menuturkan, data tenaga kerja AS merupakan faktor utama untuk pergerakan harga emas pada pekan ini. Selain itu, faktor penting yang dicermati pasar yaitu dampak Badai Harvey. Ini juga dapat membuat pelonggaran kebijakan moneter.

“Dampak Badai Harvey akan membuat banyak penduduk kehilangan pekerjaan di Texas dan aktivitas data ekonomi. The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember tetapi kita dapat data jelek. Pasar akan revisi harapan kenaikan suku bunga,” tambah dia. pt bestprofit

Cieszynski menambahkan, pasar juga akan fokus terhadap anggaran pemerintah dan dampak Badai Harvey. “Badai Harvey berdampak ke pembicaraan anggaran. Bencana alam dapat memecahkan perdebatan batas utang,” ujar dia.

Selain itu, sejumlah pejabat the Federal Reserve juga akan memberikan pernyataan. Menurut Cieszynski, pernyataan pejabat the Federal Reserve akan pengaruhi dolar AS dan harga emas.

Sedangkan data ekonomi AS yang menjadi perhatian yaitu indeks PMI Services dan ISM non manufaktur.

Analis prediksi harga emas tidak akan turun di bawah US$ 1.300 pada pekan ini. Harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.300-US$1.330.

“Jika harga emas tidak dapat ditutup di kisaran US$ 1.325 pada pekan ini, diharapkan level support di kisaran US$ 1.308. Level US$ 1.300 merupakan level penting,” ujar Lawler. pt bestprofit

Sumber : Liputan6