PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: saham

Wall Street Berakhir Datar di Tengah Penurunan | Bestprofit

Wall_Street_-_New_York_Stock_Exchange2-700x357

Bestprofit (18/7) – Wall street ditutup mendatar terpicu keuntungan pada utilitas dan saham konsumen yang mengimbangi penurunan saham perusahaan perawatan kesehatan.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 8,02 poin, atau 0,04 persen ke posisi 21.629.72. Sementara indeks S & P 500 kehilangan 0,13 poin, atau 0,01 persen menjadi 2.459,14 dan Nasdaq Composite bertambah 1,97 poin, atau 0,03 persen ke level 6.314,43 poin.

Pasar dipengaruhi saham sektor kesehatan pada indeks S&P 500 yang tergelincir. Sebagian terbebani keputusan Senat Amerika Serikat (AS) untuk mempertimbangkan penundaan undang-undang kesehatan.

“Saya pikir kita harus melihat beberapa hal terkait kesehatan sebelum Anda dapat membuat taruhan pada industri itu,” kata Erick Ormsby, CEO Alcosta Capital Management di San Ramon, California.

Menurut dia, sebagian besar aliran dana akan datang bila telah ada kejelasan tentang RUU kesehatan.

Industri kesehatan pada indeks S&P turun 0,3 persen. Sementara utilitas meraih 0,4 persen dan sektor konsumen naik 0,26 persen.

Adapun saham BlackRock turun 3,1 persen menjadi US$ 424,63 usai perusahaan aset manajer terbesar dunia ini melaporkan perolehan laba kuartalannya di bawah ekspektasi.

Di sisi lain, saham Netflix (NFLX.O) melonjak 8,5 persen menjadi US$ 175,45, atau lebih baik dari harapan pertumbuhan pelanggan. Saham Procter & Gamble (PG.N) naik 0,5 persen menjadi US$ 87,55.

Amazon (AMZN.O) memimpin kenaikan sebesar 0,8 persen menjadi US$ 1.010,04.

Sekitar 5,16 miliar saham berpindah tangan di pasar, dibandingkan 6,51 miliar rata-rata harian selama 20 sesi terakhir.

Sumber : Liputan6

Sentimen The Fed Bikin Wall Street Cetak Rekor | Bestprofit

USD-30-800-540-700x357

Bestprofit (13/7) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat dengan indeks saham Dow Jones catat rekor tertinggi. Penguatan bursa saham AS ini juga didukung dari testimoni pimpinan bank sentral AS atau The Federal Reserve Janet Yellen menuturkan menaikkan suku bunga secara bertahap.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones menguat 123,07 poin atau 0,57 persen ke level 21.532,14. Indeks saham Dow Jones sentuh level tertinggi intraday. Indeks saham S&P 500 menguat 17,72 poin atau 0,73 persen ke level 2.443,25. Indeks saham Nasdaq bertambah 67,87 poin atau 1,1 persen ke level 6.261,17.

Pernyataan pimpinan the Federal Reserve Janet Yellen mempengaruhi pasar. The Federal Reserve mengisyaratkan kenaikan suku bunga bertahap. Demikian juga saat mengurangi neracanya. Tingkat suku bunga pun dinilai tidak akan menghambat aktivitas ekonomi.

Investor merespons positif pernyataan Janet Yellen. Hal itu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap penurunan inflasi.

“Orang-orang khawatir tentang pernyataan lebih agresif dari Janet Yellen. Ia mengatakan dengan tepat apa yang diharapkan pasar. Itulah mengapa pasar senang dengan hal itu,” ujar Chris Zaccarelli, Direktur Cornerstone Financial Partners, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (13/7/2017).

Sejumlah sektor saham alami penguatan. Indeks saham sektor properti S&P mencatatkan penguatan sekitar 1,3 persen. Didukung indeks saham sektor teknologi yang naik 1,3 persen. Pernyataan the Federal Reserve kurang agresif pun mendorong indeks sektor saham keuangan S&P naik tipis 0,1 persen.

Indeks saham maskapai pun menguat 2,3 persen usai maskapai American Airlines Group Inc melaporkan hasil kinerja yang mengalahkan harapan. saham American Airlines Group Inc menguat 4,2 persen. Saham Delta Air Lines Inc, United Continental Holdings Inc, saham Alaska Air Group Inc, Spirit Airlines Ind dan JetBlue Airways Corp masing-masing menguat satu persen.

Sejumlah perusahaan pun akan merilis kinerja keuangan menjelang akhir pekan ini. Perusahaan itu antara lain JP Morgan Chase, Wells Fargo dan Citigroup.

Sementara itu, laporan the Federal Reserve terbaru yang menunjukkan ekonomi AS tumbuh secara moderat juga menahan kenaikan bursa saham.

Volume perdagangan saham pun tercatat 6,1 miliar saham di wall street. Angka ini di bawah rata-rata perdagangan saham selama 20 harian sekitar 6,9 miliar.

Sumber : Liputan6

Harga Minyak Bikin Wall Street Bervariasi | PT Bestprofit

007030700_1410989447-FOTO

PT Bestprofit (6/7) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi dipengaruhi tekanan harga minyak dan aksi beli di saham-saham teknologi.

Harga minyak melemah mendorong sektor saham energi tertekan. Sedangkan pelaku pasar membeli saham teknologi sehingga mengangkat indeks saham Nasdaq.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 1,1 poin atau 0,01 persen ke level 21.478,17. Indeks saham S&P 500 menguat tipis 3,53 poin atau 0,15 persen ke level 2.432,54. Indeks saham Nasdaq bertambah 40,80 poin atau 0,67 persen ke level 6.150,86.

Harga minyak melemah empat persen didorong penguatan dolar AS. Selain itu, ekspor OPEC juga meningkat.

“Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak. Pemerintah pun tidak dapat memutuskan apakah hasil untuk industri domestik meski terus memproduksi atau tidak. Mereka terus produksi minyak selama itu menguntungkan bagi mereka,” ujar Tim Ghriskey, Chief Investment Officer Solaris Asset Management seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (6/7/2017).

Saham produsen minyak pun melemah. Saham Exxon dan Chevron melemah lebih dari 1,5 persen. Kedua saham itu catatkan pelemahan terbesar di indeks saham Dow Jones dan S&P. Indeks saham sektor energi S&P turun 2 persen, dan catatkan performa terburuk dari antara 11 sektor saham lainnya di indeks saham S&P.

Sementara itu, sektor saham teknologi naik 1 persen, dan memimpin penguatan di indeks saham S&P 500. Saham Advanced Micro Devices, Micron, dan Nvidia mencatatkan performa terbaik di antara sektor saham lainnya. Saham teknologi cenderung volatile dalam beberapa minggu ini seiring pelaku pasar fokus terhadap valuasi saham teknologi. Indeks sektor saham teknologi sudah naik 17 persen pada 2017.

Adapun volume perdagangan saham tercatat di wall street mencapai 6,52 miliar saham. Angka ini di bawah rata-rata perdagangan saham sekitar 7,19 miliar saham.

Data ekonomi terakhir dan tingkat inflasi di bawah target 2 persen oleh the Federal Reserve akan berdampak untuk rencana kenaikan suku bunga the Federal Reserve.

Pesanan baru untuk barang buatan AS turun lebih dari yang diperkirakan pada Mei. Akan tetapi, modal pesanan peralatan sedikit lebih kuat dari yang dilaporkan sebelumnya sehingga menunjukkan manufaktur tetap berada tumbuh moderat.

Sisi lain pembuat kebijakan the Fed juga terpecah pada prospek inflasi. Hal itu akan pengaruhi laju kenaikan suku bunga ke depannya. Hal itu berdasarkan risalah pertemuan kebijakan the Fed pada 13-14 Juni 2017.

Risalah itu menunjukkan sejumlah pejabat melihat kalau harga saham sudah tinggi dibandingkan dengan valuasi standar. Padahal pertumbuhan pendapatan menguat.

Sumber : Liputan6