PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: Rupiah

Investor Masih Tertarik Pegang Rupiah

000326400_1451383425-20151229-Transaksi-Rupiah-AY1

BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/1) – Meski tingkat inflasi Indonesia lebih tinggi dibanding Amerika Serikat (AS), investor domestik dan asing masih meminati Rupiah, termasuk di portofolio investasi di surat utang negara (SUN). Alasannya, kekuatan ekonomi Indonesia masih dipandang baik hingga jangka panjang.

Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengaku inflasi merupakan salah satu faktor penyebab gejolak nilai tukar rupiah karena terkait dengan permintaan maupun penawaran dolar Amerika Serikat (AS). Permintaan atas mata uang dolar AS akan meningkat, sehingga berakibat penguatan dolar AS dan Rupiah terdepresiasi.

“Kalau inflasi di Indonesia tinggi, maka aset dalam bentuk rupiah lebih rendah dibanding pegang dolar AS. Jadi orang tidak akan tertarik menggenggam rupiah,” jelasnya saat berbincang dengan beberapa wartawan di Jakarta, seperti ditulis Senin (18/1/2016).

Pada kenyataannya, kata Lana, Indonesia masih menarik bagi para investor sebagai negara tujuan investasi. Pemerintah menawarkan tingkat bunga atau kupon cukup menggiurkan saat lelang surat berharga atau surat utang dalam bentuk rupiah.

“Kalau dilihat kuponnya masih menarik, buktinya lelang-lelang surat utang selalu oversubscribed (kelebihan permintaan). Jadi investor masih mau pegang aset dalam bentuk Rupiah, karena mungkin mereka melihat ketidakpastian global jangka pendek saja,” terangnya.

Sementara investor, sambung Lana, melihat Indonesia masih cukup prospektif untuk menanamkan modal didukung fundamental ekonomi yang kuat. Dalam jangka menengah dan panjang, Negara ini dianugerahi bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang banyak.

“Kita punya faktor jangka menengah panjang yang cukup kuat. Demografi kita lagi di posisi bagus-bagusnya. Tingkat partisipasi tenaga kerja di atas 60 persen, artinya rata-rata dalam rumah tangga 60 persennya bekerja. Ini kekuatan ekonomi luar biasa,” paparnya.

Lana menyatakan, kondisi ini berbeda dengan Jepang, China dan Uni Eropa (UE) di mana sebagian besar populasi penduduknya menua. Hal tersebut sangat mempengaruhi perekonomian sebuah negara.

“Kalau usia produktif itu berdampak ke konsumsi akan meningkat dan akan membantu pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi baik, rupiah bisa menguat,” tandas Lana. (Fik/Ndw)

Sumber: Liputan6

RI Banjir Dolar, Rupiah Bisa Makin Perkasa ke 13.000

New_five_dollar_bill

BESTPROFIT FUTURES MALANG (12/10) – Penguatan nilai tukar rupiah diprediksi bakal berlanjut hingga berpeluang menembus level 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Potensi ini terbuka sangat besar mengingat Indonesia sedang kebanjiran dana dari pihak asing yang masuk melalui pasar modal.

Pengamat Valas, Farial Anwar, hampir seluruh nilai mata uang negara berkembang mengalami apresiasi karena pelemahan dolar AS, termasuk rupiah. Kondisi tersebut, dinilai merupakan momentum positif bagi Bank Indonesia (BI) untuk menahan penguatan rupiah.

“Nilai dolar AS memang sudah sangat tinggi, jadi BI harus berupaya jangan sampai rupiah balik lagi ke 14 ribu per dolar AS. Karena BI sudah ditolong pasar lho (asing masuk),” jelas dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Senin (12/10/2015).

Lebih jauh dia menerangkan, BI harus menargetkan kurs rupiah bisa bertahan menguat di level 13.500 per dolar AS. Pasalnya [potensi nilai tukar rupiah](2337260″”) untuk terus terapresiasi sangat besar. Farial meramalkan, dolar AS bisa melemah hingga level Rp 13.000.

“Rupiah sekarang kan sudah 13.400, jadi dikunci atau ditargetkan 13.500 per dolar AS. Karena sangat memungkinkan, rupiah semakin menguat dan tembus 13.000 per dolar AS,” tegasnya.

Farial beralasan, harapan besar itu datang dari derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia sejak awal Oktober lalu dengan nilai sekira Rp 3 triliun sampai dengan hari ini.

Investor melakukan pembelian saham di pasar modal, sehingga berhasil mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Karena saham kita sedang murah, investor jual dolar AS buat beli saham. Jadi kita banjir dolar sekarang sebab asing sedang menyerbu masuk lagi ke Indonesia seiring meredanya spekulasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS,” tutur dia.

Melihat kinerja pasar uang Indonesia, terutama nilai tukar rupiah sejak 2 Oktober 2015 semakin bersinar. Tak butuh waktu lama untuk rupiah menguat sampai lebih dari Rp 1.000 dalam kurun waktu sepekan.

Menurut Farial, penguatan rupiah dan mata uang negara berkembang lain ditopang karena spekulasi penyesuaian Fed Fund Rate berangsur-angsur surut.

Dia memperkirakan The Federal Reserves akan menunda realisasi kebijakan ini mengingat realisasi data pengangguran AS yang tidak sesuai ekspektasi.

“Penguatan rupiah didominasi faktor eksternal, terutama spekulasi The Fed mereda. Data pengangguran AS 220 ribu orang, tapi yang terserap (bekerja) hanya 141 ribu orang, sehingga menunjukkan bahwa ekonomi AS belum
sepenuhnya membaik. Di tengah devaluasi Yuan, perkiraan kenaikan suku bunga AS kemungkinan tidak akan dinaikkan dalam waktu dekat,” paparnya.

Kendati demikian, dia bilang, Indonesia masih akan menghadapi kondisi ketidakpastian sampai dengan akhir tahun ini, terutama maju mundurnya kenaikan Fed Fund Rate.

“The Fed seperti main tebak-tebakkan. Kita bisa jungkir balik karena kebijakan AS tersebut, ini kan konyol, masa setiap menjelang pertemuan FOMC, kita terombang ambing terus. Jadi pemerintah dan BI harus menjaga momentum penguatan ini,” harap Farial. (Fik/Ndw)

Sumber : Liputan6

Pelemahan Rupiah Ancam Bisnis Kalbe, Saham KLBF Berusaha Rebound

KLBF-700x357

BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/5) – Meski  PT Kalbe Farma, Tbk (KLBF) berhasil mencetak keuntungan yang meningkat diperiode kuartal pertama tahun ini  jika dibandingkan tahun sebelumnya, Direktur Keuangan KLBF-Vidjongtius mengakui prestasi bisnisnya dari kuartal sebelumnya masih lemah. Namun dalam RUPS yang diselenggarakan kemarin (18/5) KLBP optimis periode kuartal kedua kinerja keuangan akan meningkat.

Diakui penurunan kinerja akibat pelemahan nilai tukar Rupiah yang sangat memukul kinerja perusahaan, pejabat keuangan KLBF tersebut ungkapkan pelemahan Rupiah per Rp10 akan memukul beban perusahaan 3-4 persen. Namun meskipun begitu beban ini masih wajar karena menurut beliau  jika nilai tukar Rupiah naik di kisaran  Rp13000- Rp13200 perusahaan masih bisa menanggung beban penjualannya.

Melihat kinerja keuangan perseroan hingga Maret 2015, KLBF berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 537,40 miliar atau meningkat 6,22% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 505,97 miliar. Hal tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya pendapatan perseroan sebesar 3,92% menjadi Rp 4,24 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,08 triliun.

Sementara itu, beban pokok penjualan tercatat mengalami peningkatan sebesar 0,94% menjadi Rp 2,14 triliun dari yang sebelumnya sebesar Rp 2,12 triliun serta beban operasi lainnya yang meningkat cukup tajam sebesar 86,81% menjadi Rp 19,97 miliar dari yang sebelumnya Rp 10,69 miliar.

Selain itu, laba kotor perseroan tercatat mengalami peningkatan 8,24% menjadi Rp 2,10 triliun dari yang periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,94 triliun. Adapun laba per saham dasar KLBF tidak mengalami perubahan dari kuartal tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 11 per saham. Total aset KLBF hingga Maret 2015 mencapai Rp 13,01 triliun atau naik 4,75% dari periode sebelumnya sebesar Rp 12,42 triliun.

Di sisi lain, ROA dan ROE pada kuartal I-2015 mengalami peningkatan dibandingkan kuartal I-2014 dimana ROA pada kuartal pertama tahun ini mencapai 20,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 19,40% dan ROE pada kuartal pertama tahun ini mencapai 5,18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,15%. Ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan KLBF pada kuartal pertama tahun ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, PT Kimia Farma (Persero), Tbk (KAEF) selaku kompetitor memiliki ROA dan ROE pada kuartal I-2015 masing-masing sebesar 2,25% dan 3,42%. Ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan KLBF lebih baik dibandingkan KAEF.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada hari Senin ini (18/5), saham KLBF ditutup naik 0,6%  pada level 1805 setelah pada penutupan sebelumnya berada di level 1795 dan bergerak pada kisaran 1790 – 1810 dengan volume perdagangan saham KLBF mencapai 50,5 juta lot saham.

Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal mengalami tren yang fluktuatif sejak awal tahun namun pada pertengahan Maret lalu, saham KLBF bergerak dalam tren penguatan hingga 24 April dan setelah itu saham KLBF berada dalam tren menurun. Indikator Stochastic menunjukkan pergerakan menuju area jenuh jual setelah sebelumnya bergerak di area tengah. Indikator Average Directional Movemnet menunjukkan garis –DI berada di atas garis +DI serta garis ADX yang mendatar menggambarkan bahwa tren saham KLBF diperkirakan melemah secara terbatas. Dengan kondisi teknikalnya, KLBF berpotensi bergerak dalam tren melemah dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakkan KLBF. Rekomendasi trading hingga akhir hari ini berada dalam kisaran target support di level 1781 hingga resistence di level 1821.

Sumber : Vibiznews