PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: Mars

5 Teknologi yang Dikembangkan NASA Untuk Bisa Pergi ke Mars

090367900_1441966614-was-chinese-scientist-a-spy-at-nasa-130318

BESTPROFIT FUTURES MALANG (15/10) – Keinginan NASA untuk bisa pergi ke Mars tahun 2030 ternyata telah makin serius diperhitungkan dan mulai dipersiapkan, meskipun tidak sedikit dari rencana-rencana tersebut masih berupa cetak biru.

Di dalam dokumen yang bertajuk ‘NASA Journey to Mars’, walau kebanyakan di antaranya masih berupa tujuan-tujuan abstrak, dapat diketahui beberapa rencana teknologi penting yang dibutuhkan dan dapat menunjang upaya manusia untuk bisa pergi ke Mars.

Oleh karena itu, dalam rangka lebih mengenal teknologi yang termasuk ke dalam rencana NASA untuk mendorong misi manusia ke Mars tersebut, berikut Tekno Liputan6.com sajikan teknologi yang sedang direncanakan dan dikembangkan NASA, seperti dikutip dari laman Popular Science, Kamis (15/10/2015)

1. Roket yang sangat besar
Untuk mampu membawa banyak kebutuhan selama perjalanan, dibutuhkan sebuah roket yang mendukung hal tersebut. Karena itu, Space Launch System NASA yang sedang dipersiapkan mampu menampung 70 metrik ton suplai.

Selain itu, Space Launch System ini dapat digunakan untuk mengirim muatan hingga 130 metrik ton dalam lintasan menuju Mars. Dengan tinggi kira-kira 116 meter, nantinya Space Launch System NASA akan menjadi kendaraan terbesar yang pernah diluncurkan. Bahkan, akan lebih kuat dibandingkan roket Saturn V yang pernah membawa astronot ke bulan.

2. Sebuah habitat penyokong kehidupan
Supaya kehidupan astronot di Mars dapat dimungkinkan, NASA menginginkan sebuah habitat luar angkasa yang dapat dihubungkan dengan kapsul Orion. Nantinya habitat itu dapat digunakan untuk mendukung kehidupan astronot di Mars, layaknya yang diperlihatkan di film The Martian baru-baru ini

Habitat tersebut akan dibuat tahan api dan dilengkapi dengan perlindungan radiasi. Selain itu, habitat ini rencananya juga akan ditambah ruang untuk astronot melakukan latihan dan pekerjaan mereka.

3. Propulsi Eksprimental
Space Launch system didukung oleh pembakaran hidrogen dan oksigen cair. Namun, itu hanya digunakan untuk membawa astronot keluar dari orbit bumi. Jika harus menggunakan sumber daya yang sama untuk perjalanan selama kurang lebih 7 bulan Mars, pesawat luar angkasa harus memiliki tangki gas besar dan itu berarti biaya yang lebih mahal.

Maka dari itu, NASA berencana menggunakan sinar matahari untuk mengirimkan kargo, persediaan, termasuk para astronot ke Mars. Dengan demikian, NASA menggunakan metode Solar Electric Propulsion yang dapat menggerakan pesawat luar angkasa dengan menembakkan ion.

Meski Solar electric propulsion tidak langsung menyediakan kecepatan maksimal untuk roket, kecepatannya akan bertambah seiring waktu dengan kecepatan hingga sekitar 300 ribu kilometer per jam. Selain itu, teknologi ini juga lebih efisien dibandingkan bahan bakar roket. Teknologi ini sekarang sudah benar-benar nyata, namun NASA masih masih terus mengembangkan ukurannya untuk keperluan misi ke Mars.

4. Baju Luar Angkasa yang Fleksibel
Dengan pertimbangan bahwa astronot yang dikirim ke Mars akan berada di sana dalam waktu setahun atau lebih, maka untuk mendukung kegiatan yang dilakukan, seperti menjelajah dan mengumpulkan data, diperlukan sebuah pakaian yang mendukung.

Karena itu, nantinya baju luar angkasa yang baru dapat digunakan untuk melawan radiasi, udara dingin, termasuk atmosfer tipis, namun tetap dapat memungkinkan astronot melakukan pekerjaan mereka.

5. Komunikasi Menggunakan Sinar Laser
Lantaran kondisi jaringan internet di Mars terbatas, diperlukan suatu perubahan untuk memperbaikinya. NASA dikabarkan telah memiliki sebuah rover di Mars yang dapat digunakan untuk menerima ataupun mengirimkan data sampai 2 juta bits per detik.

Untuk itu, NASA sedang memperkuat pengiriman data dengan menggunakan laser. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan NASA pada 2013 lalu, penggunaan sistem komunikasi laser dapat mengunduh informasi hingga 622 juta bits per detik.

(dam/why)

 

Sumber : Liputan6

Menguak Misteri `Sendok Terbang` di Planet Mars

006189900_1441341545-Curiosity-Finds-a-Floating-Spoon-on-Mars

BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/9) – Pekan ini, robot spacecraft milik NASA yang tengah menjelajah planet Mars, Curiosity, mengirimkan beberapa gambar teranyar terkait keadaan di planet merah tersebut.

Dari sejumlah gambar yang berhasil didapat, beberapa di antaranya memang terlihat seperti bebatuan biasa, mengingat ekosistem planet Mars memang dikelilingi oleh material batu. Akan tetapi, yang membuat janggal adalah, jika dilihat lebih lama, bebatuan tersebut membentuk formasi bentuk yang sudah tidak asing dan bisa ditemukan di Bumi, mulai dari piramida, peti mati, iguana, bahkan sampai kepala Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Satu dari gambar terbaru yang berhasil didapat baru-baru ini juga memperlihatkan sesuatu yang cukup aneh. Jika Anda melihat gambar di bawah ini dan berpikir secara imajinatif, salah satu bagian gambar tersebut nampak seperti sebuah sendok terbang yang membentang diantara tebing batu di planet Mars.

Gambar tersebut diperjelas oleh laman Daily Mail dengan memberikan spot circle merah untuk memperlihatkan penampakan menyerupai sendok.

 

Curiosity sejauh ini memang hanya bertugas memantau dan mengirimkan gambar-gambar keadaan planet Mars. Berbagai spekulasi pun dilontarkan apakah gambar tersebut sejatinya memperlihatkan sebuah sendok atau hanya bebatuan yang membentuk formasi sendok.

Seth Shostak, salah satu ilmuwan dari pusat riset Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI), menjelaskan bahwa gambar tersebut memperlihatkan formasi yang disebut ‘apophenia’ yang dimana membuat mata manusia melihat sebuah pattern dengan asosiasi pikiran yang pertama kali muncul di kepala mereka.

“Mata manusia bisa melacak objek dengan cepat dan mampu menyalurkan apa yang telah mereka lihat ke otak berdasarkan seberapa besar objek tersebut meyakinkan mereka, bahwa itu merupakan hal yang sering mereka temui,” ungkap Seth.

Dengan kata lain, Seth mengungkapkan bahwa tidak ada sendok terbang di planet Mars. Jelas, hal itu merupakan bebatuan yang membentuk sendok sehingga mensugestikan persepsi manusia bahwa itu seolah-seolah merupakan sendok terbang.

Lebih lanjut disebutkan, manusia sejatinya memiliki kemampuan ‘pareidolia’ dimana mereka bisa melihat objek aneh seperti di Mars dan merespon objek tersebut secara psikologis, dan memberikan efek sugesti berlebih. Otak manusia bisa mengenali sebuah objek yang ‘akrab’ dengan kehidupan sehari-hari, namun sebenarnya objek itu tidak ada.

Oleh karena itu, manusia pada umumnya lebih terpengaruh dengan visual dan langsung mempersepsikannya ke dalam pikiran mereka terkait apa yang mereka lihat.

(jek/dhi)

 

Sumber : Liputan6

Pemilihan Kelompok Manusia Calon Penghuni Planet Mars Berlanjut

073313300_1437126114-mars-one-selection

BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/7) – Penasaran ingin mengetahui bagaimana pemilihan kelompok manusia yang akan dikirim ke Planet Mars? Ini dia. Sekelompok orang sedang menjalani proses pemilihan dan ujian untuk menjadi manusia-manusia pertama yang dikirim ke planet merah tersebut.

Seperti dilansir laman mars-one.com yang dikutip pada Minggu (19/7/2015), badan nirlaba di Belanda tersebut sedang memproses dan menyaring 100 orang menjadi 24 orang.

Dalam tulisan bertajuk ‘Pemilihan dari 100 Menjadi 24′, Kepala Kedokteran Mars One, Norbert Kraft, menguraikan putaran ketiga dan keempat terkait pemilihan para calon yang akan berangkat dalam penerbangan satu arah ke Planet Mars.

Menurut dia, putaran ketiga akan berlangsung 5 hari dan berkutat kepada tantangan dinamika kelompok dan pengamatan para calon yang dihimpun dalam kelompok 10 hingga 15 orang selagi mereka bekerja bersama untuk memecahkan permasalahan.

Setelah jumlahnya tinggal 40 orang, para calon akan dibawa ke putaran keempat di mana mereka diwajibkan hidup sendirian dalam pengasingan selama 9 hari hingga akhirnya tinggal 30 orang yang bertahan.

Sesudah itu, imbuh Kraft, barulah diadakan ‘Wawancara Kepatutan Penghuni Mars’ yang berlangsung empat jam hingga menyisakan 24 orang calon saja yang akan mendapatkan penawaran pekerjaan penuh waktu dengan Mars One.

“Amatlah penting bagi para calon untuk mawas diri tentang bagaimana mereka bertindak dalam situasi berdekatan yang berkepanjangan satu sama lain,” ujar Kraft.

“Selama perjalanan dan kedatangan di Planet Mars, mereka akan saling bertemu 24 jam sehari. Pada saat demikian, hal-hal yang sepele pun akan menjadi sangat mengganggu. Perlu dinamika kelompok tertentu untuk mampu menangani hal ini dan tugas kamilah untuk mendapatkan mereka yang paling tepat untuk tantangan demikian,” sambung dia.

Diawali Tahun 2012

Proyek Mars One diumumkan pada 2012 dan bertujuan mendaratkan manusia menjadi penghuni Mars di tahun 2025. Di sana mereka akan tinggal seumur hidupnya. Para calon penghuni berikutnya akan dikirimkan lagi ketika posisi Bumi dan Mars memungkinkan bagi peluncuran yang diperkirakan terjadi setiap 18 bulan.

Mereka akan tinggal di tempat yang sebelumnya disiapkan oleh kendaraan penjelajah tak berawak. Mereka juga harus berkeliaran di tanah baru untuk mencari sendiri bahan-bahan mentah di sana dan secara bersamaan menjadi bagian dari tayangan reality show televisi yang disiarkan langsung ke Bumi.

Dari penelusuran dunia maya diketahui bahwa sejumlah pihak bahkan menjadi sangat sinis dengan upaya ini dan menyebutnya sebagai sekadar tipuan untuk menghimpun dana.

Belakangan ini timbul berbagai keraguan mengenai proyek ini, terutama terkait dengan masalah teknologi, keanehan penggunaan statistik untuk pemilihan, dan munculnya kesulitan dalam model bisnisnya.

Namun demikian, pihak Mars One tetap bersikeras maju terus dan menjadwalkan putaran pemilihan calon berikutnya pada September 2016. (Alx/Ans)

Sumber : Liputan6