PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: IMF

Wall Street Tertekan Peringatan IMF kepada Yunani

FOTO

BESTPROFIT FUTURES MALANG (3/7) – Wall Street memperpanjang penurunannya pada Kamis (Jumat waktu Jakarta) setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan Yunani tentang kemungkinan menghadapi lubang keuangan lebih besar menjelang pelaksanaan Referendum pada Minggu ini. Selain itu rilis data pekerjaan yang mixed ikut mempengaruhi prospek ekonomi AS.

Melansir laman Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 27,8 poin (0,16 persen) ke posisi 17.730,11 poin. Sementara indeks S&P 500 merosot 0,64 poin (0,03 persen) menjadi 2.076,78, dan Nasdaq Composite turun 3,91 poin (0,08 persen) menjadi 5.009,21 poin.

Ketiga indeks jatuh di minggu ini, dengan penurunan S & P 500 menjadi yang terbesar sejak Maret. Dow memiliki penurunan mingguan terbesar sejak April, sedangkan Nasdaq memiliki penurunan mingguan terbesar sejak awal Mei.

IMF memperingatkan bahwa Yunani membutuhkan tambahan 50 miliar Euro selama tiga tahun ke depan untuk tetap bertahan.

Peringatan ini di tengah desakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras kepada para pemilih untuk menolak tawaran bailout dari kreditor dan mengatakan harapan dirinya untuk menandatangani kontrak baru pada Senin nanti.

“Mengingat Referendum Yunani baru dilakukan pada hari Minggu dan liburan akhir pekan, setidaknya untuk saat ini aksi agak teredam dibandingkan dengan sisa minggu ini,” ujar Michael Arone, Kepala Strategi Investasi State Street Global Advisors U.S. Intermediary Business.

Volume perdagangan tercatat masih rendah menjelang akhir pekan yang panjang. Pasar AS tidak akan dibuka pada Jumat karena pelaksanaan liburan Hari Kemerdekaan.

Di sisi lain, laporan perlambatan pertumbuhan pekerjaan AS pada bulan Juni, ikut mempengaruhi ekspektasi tentang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September.

Nonfarm payrolls meningkat 223 ribu bulan lalu, ini di bawah perkiraan ekonom sebesar 230 ribu. Sementara penghasilan per jam rata-rata tidak berubah pada bulan Juni, naik 2 persen year to year.

The Fed mengatakan akan menaikkan suku bunga hanya ketika data menunjukkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Investor juga menghadapi ketidakpastian volatilitas di pasar saham China dan krisis utang di Puerto Rico. “Tidak ada cukup kepastian untuk mengambil posisi panjang saat liburan akhir pekan ini,” jelas Richard Weeks, Managing Director Hightower Advisors di Vienna, Virginia.

Sekitar 5,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan 7,6 miliar rata-rata selama lima sesi terakhir, menurut data dari BATS Global Markets.(Nrm/Igw)

Sumber : Liputan6

IMF Pangkas Prospek Ekonomi Korea Selatan

seoul-cities-city-pictures-picture-352737-700x357
BESTPROFIT FUTURES MALANG (15/5) – Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan prospek pertumbuhan negara-negara ekonomi besar, setelah menurunkan prospek pertumbuhan negara Amerika Serikat dan Tiongkok beberapa waktu lalu kini lembaga tersebut menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi Korea Selatan.

Pemberi pinjaman yang berkantor pusat di Washington ini memperkirakan ekonomi Korea Selatan hanya bertumbuh untuk  3,1 persen tahun ini dan bukan 3,3 persen seperti yang diproyeksikan pada bulan April lalu. Untuk tahun 2016, IMF memproyeksikan ekspansi ekonomi hanya  3,5 persen.
IMF menurunkan prospek ekonomi negara ini dengan alasan turunnya permintaan domestik yang menahan laju kegiatan ekonomi negara ekonomi terbesar keempat di Asia dan termasuk kelompok 10 negara ekonomi besar dunia ini.Momentum pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang dimulai sejak awal 2013 telah terhenti sejak bulan  April 2014 pasca tragedi feri Sewol yang mengurangi sentimen konsumen dan investornya.
IMF melihat prospek ekonomi Korea Selatan sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam menanggulangi permintaan domestik yang lamban,  penurunan ekspor dan produktivitas yang relatif rendah di sektor jasa. IMF menghargai perubahan moneter, fiskal dan kebijakan lainnya  yang baru-baru ini diadopsi oleh pemerintah untuk menghidupkan kembali permintaan domestik.
Dari Korea Selatan sendiri terlihat keseriusan pemerintahnya untuk mereformasi ekonomi disemua sektor negara tersebut termasuk inisiatif untuk mengatasi kekakuan pasar tenaga kerja.Dan pemerintah Korea beralasan kondisi negaranya melemah dipengaruhi kondisi ekonomi mitra dagang utamanya seperti Jepang dan Tiongkok. Dari Jepang, pelemahan yen terus-menerus akan melemahkan ekspor produk industri negara ini.

Sumber : Vibiznews

IMF Turunkan Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global

url
BESTPROFIT FUTURES MALANG (21/1) – Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas ramalan ekonomi globalnya untuk tahun 2015 dan kepala ekonom IMF menyatakan dunia menghadapi œarus silang yang kuat dan rumit.
IMF masih memprediksi pertumbuhan 3,5 persen tahun ini dan 3,7 persen tahun depan, tetapi kedua angka tersebut lebih rendah 0,3 persen daripada proyeksi IMF pada Oktober lalu.
Kepala ekonom IMF Olivier Blanchard mengatakan kepada wartawan di Beijing hari Selasa, ekonomi dunia diperkirakan akan bertumbuh sedikitlebih cepat pada tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014, meskipun pertumbuhan di banyak wilayah dunia diperkirakan lebih lemah.
IMF menyatakan ekonomi yang maju akan tumbuh 2,4 persen, dan pertumbuhan 4,3 persen di negara-negara yang ekonominya baru mencuat serta di negara berkembang.
IMF menyatakan Amerika, ekonomi terbesar di dunia, akan mengalami pertumbuhan 3,6 persen tahun ini, setengah persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang diprediksi pada Oktober lalu.
IMF yang berbasis di Washington itu menyatakan China, ekonomi terbesar kedua di dunia, akan bertumbuh 6,8 persen pada tahun 2015, sedangkan blok 18 negara pengguna mata uang Euro dan Jepang, hampir tidak mengalami pertumbuhan.
IMF menyatakan ekonomi di Rusia serta di Eropa Tengah dan Timur akan menyusut.
Blanchard mengatakan kemerosotan tajam harga minyak membantu ekonomi-ekonomi besar yang mengimpor minyak, tetapi merugikan ekonomi negara-negara pengekspor minyak seperti Rusia dan Nigeria. Harga minyak merosot dari sekitar 100 dolar per barel pada Juni lalu menjadi di bawah 50 dolar sekarang ini.
Harga-harga komoditas yang lebih rendah juga menyebabkan pertumbuhan diperkirakan melemah di Afrika Selatan, Amerika Latin dan Karibia.
Blanchard mengatakan perekonomian Jepang dan Eropa yang lesu dapat meraih keuntungan dari fluktuasi nilai tukar mata uang. Ia mengatakan kenaikan 7 persen nilai dolar sejak Agustus lalu mungkin membatasi kemajuan ekonomi di Amerika Serikat, tetapi dapat memperkuat nilai mata uang Jepang dan Eropa.
Sumber: VOA