PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: Ekspor

Ekspor Jepang Bulan Mei Turun untuk Bulan Kedelapan Beruntun

bendera-jepang-_120329170258-342

BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/6) – Ekspor Jepang turun untuk bulan kedelapan berturut-turut pada Mei seiring pengiriman ke China, AS dan Eropa merosot, mengganggu upaya Perdana Menteri Shinzo Abe untuk menghidupkan kembali perekonomian.

Pengiriman ke luar negeri turun 11,3 persen pada Mei dari tahun sebelumnya, Departemen Keuangan, Senin. Estimasi median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg yakni untuk penurunan 10 persen. Impor turun 13,8 persen, meninggalkan defisit perdagangan menjadi 40,7 miliar yen (US $ 389 juta).

Keuntungan ekonomi moderat Jepang tahun ini cenderung beresiko menyusul perlambatan permintaan luar negeri dan lonjakan yen membuat produk nasional menjadi kurang menarik di luar negeri dan merugikan pendapatan eksportir. Menteri Keuangan Taro Aso menambahkan kekhawatirannya terhadap yen Jumat lalu, menyerukan koordinasi dengan rekan-rekan di luar negeri untuk mengatasi apa yang ia digambarkan sebagai pergerakan tidak beraturan di pasar mata uang.

“Ekspor masih lemah dikarenakan permintaan luar negeri tetap lesu dan efek dari yen yang lemah tahun lalu menghilang,” Atsushi Takeda, seorang ekonom di Itochu Corp di Tokyo, sebelum laporan itu dirilis. “Dengan referendum Brexit sebentar lagi dan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Fed melemah, apresiasi yen bisa berlanjut, meningkatkan risiko penurunan ekonomi Jepang.”

Sementara yen tergelincir 3,8 persen pada nulan Mei, mata uang itu melonjak 15 persen tahun ini terhadap dolar. Yen menguat ke level terkuat sejak Agustus 2014 pekan lalu setelah Bank of Japan meninggalkan kebijakan moneter tidak berubah.

Aso mengatakan pada 17 Juni lalu bahwa ia “sangat prihatin” tentang pergerakan satu sisi, tiba-tiba, dan spekulatif di pasar mata uang. Toyota Motor Corp telah memperingatkan bahwa laba bersih tahunan mungkin akan turun untuk pertama kalinya dalam lima tahun, menyusul penguatan mata uang. (sdm)

Pengiriman ke luar negeri turun 11,3 persen pada Mei dari tahun sebelumnya, Departemen Keuangan, Senin. Estimasi median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg yakni untuk penurunan 10 persen. Impor turun 13,8 persen, meninggalkan defisit perdagangan menjadi 40,7 miliar yen (US $ 389 juta). BESTPROFIT FUTURES

Sumber: Bloomberg

Komoditi Perkebunan Laku Keras Tapi Ekspor Timah Nyaris Anjlok Hingga 100%

TIMAH-700x357

BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/9) – Badan Pusat Statistik (BPS) telah melaporkan kemarin  (15/9) bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$ 433,8 juta pada Agustus 2015 lalu atau turun jika dibandingkan dengan perolehan yang tercatat di bulan sebelumnya yaitu sebesar US$ 1,33 miliar. Angka tersebut merupakan selisih lebih antara ekspor dan impor, yang masing-masing membukukan nilai masing-masing sebesar US$ 12,7 miliar dan US$ 12,27 miliar. Secara rinci kinerja ekspor pada bulan lalu tercatat meningkat 10,79 persen (mom), sementara impor tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 21,69 persen (mom).

Ekspor nonmigas Agustus 2015 mencapai US$11,17 miliar, naik 11,23 persen dibanding Juli 2015, sedangkan dibanding ekspor Agustus 2014 turun 5,99 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Agustus 2015 terhadap Juli 2015 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$237,1 juta (121,75 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada timah sebesar US$103,8 juta (99,96 persen). Sedangkan jika menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari-Agustus 2015 turun 7,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,15 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian naik 1,77 persen.

Jika kriteria ekspor non migas dipersempit dalam kriteria HS 2 digit maka nilai ekspor komoditi lainnya yang juga bukukan peningkatan antara lain kendaraan dan bagiannya meningkat US$ 147,8 juta atau naik 41,04 persen, mesin dan pesawat mekanik meningkat US$ 146,3 juta atau naik 37,26 persen. Lalu kopi, teh, dan rempah-rempah juga meningkat US$ 49 juta atau naik 49,06 persen, serta karet dan barang dari karet bukukan peningkatan terkecil hanya sebesar US$ 81,7 juta atau naik 16,75 persen. Sedangkan komoditi HS 2 digit yang mencatat penurunan terbesar adalah ekspor timah yang pada bulan lalu mencatat penurunan sebesar -US$ 103,8 juta atau turun -99,96 persen.

Tajamnya penurunan ekspor timah pada bulan lalu tidak lepas dari intervensi yang dilakukan pemerintah. Pasca penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 33 Tahun 2015 tentang perubahan Permendag No. 44/2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah, volume perdagangan ekspor timah batangan Indonesia naik pesat. Dengan revisi Permendag tersebut, maka para eksportir timah diwajibkan memiliki sertifikat CnC yang bertujuan untuk menjamin ketelusuran asal barang. Maksudnya ialah asal usul bijih timah yang digunakan untuk bahan baku timah murni batangan harus CnC, sedangkan untuk timah solder dan barang lainnya dari timah harus dilengkapi bukti pembelian bahan baku tumah murni batangan dari bursa timah.

Perlu diketahui, sebelum peraturan ini resmi diberlakukan, volume ekspor timah pada Mei 2015 lalu misalnya menunjukkan bahwa volume transaksi perdagangan timah di Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI) berhasil mencapai 6.395 ton, atau melonjak 35,3% ketimbang April 2015 sebesar 4.725 ton. Lonjakan ekspor timah pada bulan-bulan lalu disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang memanfaatkan waktu tersisa sebelum efektifnya Permendag Nomor 33/2015.

 

Sumber : Vibiznews

Kinerja Ekspor Industri Catat Kenaikan, Kinerja Sahamnya Negatif

ihsgindustri-700x357

BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/5) – Hari Jumat (15/5) Indonesia dilaporkan mengalami penurunan surplus dagang sebesar 59,78 persen dari US$ 1,13 miliar yang tercatat di bulan Maret 2015 menjadi sebesar US$ 454,4 juta di sepanjang April 2015. Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis angka tersebut menjelaskan bahwa berkurangnya surplus terjadi akibat penurunan ekspor minyak dan gas bumi (migas) akibat pelemahan harga komoditas tersebut.

Ekspor nonmigas produk industri pengolahan dilaporkan turun 5,69 persen. Jika dilihat dari kontribusinya terhadap total ekspor keseluruhan periode Januari-April 2015, industri pengolahan mengambil bagian terbesar yaitu sebesar 69,83 persen, sedangkan ekspor produk pertanian hanya tercatat sebesar 3,41 persen, dan ekspor tambang tercatat sebesar 13,03 persen.

Adapun beberapa komoditi yang termasuk dalam produk industri pengolahan pada Maret lalu terlihat mix dimana ekspor mesin/peralatan listrik yang sebelumnya mencatat kenaikan, pada April lulu mencatat penurunan sebesar 3,72 persen, hingga ekspor tercatat sebesar US$ 737,8 juta, lalu komponen karet dan barang dari karet mencatat kenaikan sebesar 10,79 persen menjadi US$ 549,9 juta, demikian juga dengan alas kaki mencatat kenaikan hingga 21,58 persen menjadi US$ 416,4 juta dan yang terakhir berbagai produk kimia yang mencatat kenaikan sebesar 20,91 persen menjadi sebesar US$ 252,8 juta.

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa ekspor industri pengolahan menunjukkan kenaikan di bulan April. Bahkan pertumbuhan industri pengolahan non migas kuartal I-2015 juga dilaporkan jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Apabila dilihat sejak tahun 2011 hingga kuartal I-2015 lalu, pertumbuhan industri non migas selalu di atas pertumbuhan ekonomi. Hanya pada tahun 2013 saja pertumbuhan industri non migas sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan industri pengolahan non migas pada 2019 mendatang diprediksi akan mampu mencapai target 8,38 persen. Hal ini karena peningkatan pertumbuhan industri disertai dengan meningkatnya kontribusi sektor industri pengolahan non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional 2015 sebesar 21,22 persen dan pada 2019 mencapai 24,15 persen.

Adapun cabang industri yang tumbuh tinggi pada kuartal I-2015 antara lain industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 9,05 persen, industri logam dasar sebesar 8,66 persen, industri makanan dan minuman sebesar 8,16 persen, serta industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik sebesar 8,14 persen.

Analys Vibiz Research Center mengemukakan bahwa kinerja saham untuk sektor terkait di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tiga bulan ini yaitu sektor industri nampak menunjukkan kinerja yang negatif dimana indeks saham untuk sektor MISC-IND menunjukkan penurunan dalam 3 bulan terakhir sebesar 10,89 persen, demikian juga dengan indeks BASIC-IND masih bertahan dengan tren penurunan dalam 3 bulan terakhir kemarin sebesar 16,91 persen.

Sumber : Vibiznews