PT Best Profit Futures Malang

Tag Archives: AS

Dollar AS Anjlok Terendah 2 Tahun Pasca Pernyataan | Bestprofit

bigpreview_100-dollars

Bestprofit (21/7) – Dolar AS jatuh ke level terendah dalam hampir dua tahun terhadap euro pada akhir perdagangan Jumat dinihari (21/07) setelah Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan pembuat kebijakan akan membahas kemungkinan perubahan pada skema pembelian obligasi di musim gugur.

Meskipun Draghi mengatakan tidak ada tanggal yang ditetapkan untuk membahas perubahan apapun terhadap program tersebut dan bahwa penghitung suku ECB telah sepakat dalam keputusan mereka untuk tidak mengubah panduan mereka mengenai kebijakan moneter, namun para investor menduga bahwa diskusi di musim gugur akan menyebabkan pengetatan moneter tahun depan.

Euro naik setinggi $ 1,1632 terhadap dollar AS setelah pernyataan Draghi, memasangnya sekitar 1,02 persen pada hari itu dan menandai level tertingginya sejak Agustus 2015. Euro terakhir dalam perjalanan untuk kenaikan persentase harian terbesarnya dalam lebih dari tiga minggu di $ 1,1622.

Indeks dolar AS, yang mengukur dollar AS terhadap sekeranjang enam saingan utama, menyentuh sesi rendah di 94.090, menandai tingkat terendah dalam hampir setahun. Itu terakhir kembali ke 94.31.

Analis mengatakan dolar juga tetap melemah mengingat keruntuhannya pada hari Senin terkait perombakan Republikan terhadap sistem kesehatan A.S. Data ekonomi yang lemah juga telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga lain dari Federal Reserve akhir tahun ini.

Dolar tidak berubah pada 111,96 yen. Itu tetap sedikit di atas level terendah Rabu tiga minggu terhadap mata uang Jepang 111,53 yen.

Bank of Japan mempertahankan kebijakan moneter stabil pada hari Kamis namun sekali lagi mendorong mundur waktunya untuk mencapai target inflasi yang ambisius. Pandangan bahwa BoJ mempertahankan kebijakan uang mudah memungkinkan dolar untuk tetap agak menguat terhadap yen, demikian pernyataan para analis.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan dollar AS akan bergerak datar mengingat belum adanya data fundamental signifikan AS yang dapat menggerakkan dollar AS. Perkembangan ekonomi di Asia, Eropa dan harga minyak mentah akan dicermati untuk pergerakan dollar AS.

Sumber : Vibiznews

Ada Dugaan Rusia Terlibat di Pemilu AS Bikin Wall | Best Profit

Wall_Street_-_New_York_Stock_Exchange2-700x357

Best Profit (12/7) – Wall Street hanya sedikit berubah pada penutupan perdagangan saham Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Sentimen politik menjadi penggerak Wall Street pada perdagangan kali ini.

Mengutip Reuters, Rabu (12/7/2017), Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,55 poin menjadi 21,409.07. S&P 500 kehilangan 1,9 poin atau 0,08 persen, menjadi 2.425,53. Sedangkan Nasdaq Composite menambahkan 16,91 poin atau 0,27 persen menjadi 6,193.31.

Wall Street tertekan di awal perdagangan Selasa usai adanya berita yang menyatakan bahwa putera laki-laki tertua dari Presiden AS Donald Trump mendapat surat elektronik (email) dukungan dari Rusia untuk memenangkan ayahnya dalam pemilihan Presiden AS melawan Hillary Clinton.

Email tersebut merujuk kepada seorang jaksa dari Pemerintahan Rusia yang menawarkan informasi yang dapat digunakan oleh Tump dalam kampanye melawan Hillary Clinton.

Namun pada perdagangan saham di siang hari, tekanan terhadap Wall Street pulih setelah Pemimpin Senat AS Mitch McConnell menyatakan bahwa ada penundaan masa reses selama dua pekan pada Agustus nanti.

Dengan adanya penundaan masa reses tersebut maka akan memberikan lebih banyak waktu bagi senat untuk menyelesaikan pembahasan beberapa undang-undang yang saat ini sedang berjalan.

“Semula semua berjalan dengan sentimen negatif. Dengan adanya penundaan masa reses ini menjadi sesuatu yang mungkin bisa menggerakkan ke arah positif,” jelas chief investment officer Commonwealth Financial, Waltham, Massachusetts, AS, Brad McMillan.

Sebenarnya adanya sentimen politik dari email Trump Jr tersebut masih ada di dalam Wall Street. Namun kekuatannya tidak terlalu besar lagi. “Komitmen dari Senat AS untuk mengubah beberapa kebijakan lebih dilihat oleh pelaku pasar,” tambah Brad McMillan. Best Profit

Sumber : Liputan6

Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Kenaikan | Best Profit

042589400_1436217805-harga-minyak-mentah-merosot-130413b

Best Profit (21/2) – Harga minyak beringsut naik terdorong optimisme investor tentang efektivitas kelanjutan pemotongan produksi oleh OPEC meskipun ouput dari Amerika Serikat (AS) terus tumbuh yang membuat stok minyak bertambah.

Melansir laman Reuters, Selasa (21/2/2017), di akhir sesi harga minyak berjangka Brent naik 0,7 persen menjadi US$ 56,18 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate AS naik 29 sen, atau 0,5 persen ke posisi US$ 53,69 per barel.

Harga minyak terdorong laporan jika pengiriman minyak mentah dari negara pengekspor anggota OPEC, Arab Saudi turun menjadi 8.014.000 barel per hari (bph) pada Desember dibandingkan November yang mencapai 8.258.000 bph.

Harga minyak juga sedikit terangkat pelemahan Dolar AS. Penguatan greenback biasanya membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lainnya, termasuk Rusia, pada tahun lalu bersepakat memangkas 1,8 juta barel per hari produksi minyaknya mulai paruh pertama 2017.

Hingga kini, kepatuhan terkait kebijakan pemotongan produksi minyak tersebut mencapai 90 persen. Bahkan, OPEC dilaporkan bisa memperpanjang perjanjian tersebut atau menerapkan pemotongan lebih besar pada Juli jika langkah pengurangan persediaan minyak mentah global tak mencapai target.

Investor pun terus mengamati langkah anggota OPEC tentang komitmen mereka untuk memotong produksi.

Sebab angka laporan pemotongan dari Arab Saudi pada Desember, dinilai tidak mencerminkan gambaran lengkap.

“Menjelang pengurangan produksi yang disepakati, Arab Saudi memilih untuk tidak mengurangi output karena biasanya negara ini akan terkena musim dingin di pertengahan tahun, sehingga di kemudian hari ini dapat mengganggu langkah pengurangan produksi yang disepakati,” jelas Commerzbank dalam sebuah catatan.

Di sisi lain, produksi minyak AS terus naik. “Dengan asumsi jumlah rig minyak AS pada tingkat saat ini, kami memperkirakan produksi minyak akan meningkat 405.000 (barel per hari) antara kuartal keempat 2017 dan kuartal keempat 2016,” kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan penelitian.

Dikatakan pula, rata-rata produksi minyak tahunan AS akan meningkat 130.000 bph, melebihi rata-rata setahun di 2017.

Sumber : Liputan6