PT Best Profit Futures Malang

^N225 14283.72-112.32 – -0.78% ^FTSE 6725.82+4.48 – +0.07% ^HSI 22775.971-30.609 – -0.13% ^KS11 2042.32-5.82 – -0.28% ^IXIC 3940.129-3.232 – -0.08% ^JKSE 4555.492-35.046 – -0.76% ^JKLQ45 764.511-8.308 – -1.08% CLK12.NYM N/A – N/A PAL 1.07+0.0015 – +0.16% PLG 2.00-0.02 – -1.74% COCO 2.64-0.025 – -1.00% GCJ12.CMX N/A – N/A WP Stock Ticker


PT Bestprofit | Harga Minyak AS Turun 11 Hari Berturut-Turut

PT Bestprofit Bestprofit Best Profit

PT Bestprofit (13/11) – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun dalam 11 hari berturut-turut, terbanyak sejak kontrak mulai diperdagangkan. Harga minyak berbalik arah dari reli di awal sesi ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan dia berharap tidak akan ada pengurangan produksi minyak.

Komentar Trump mengikuti komentar dari Menteri Energi Arab Saudi yang mengatakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedang mempertimbangkan pemotongan pasokan tahun depan, seiring dengan permintaan yang melemah.

Arab Saudi telah menyatakan keprihatinan bahwa sanksi AS telah menghilangkan lebih sedikit minyak dari pasar daripada yang diperkirakan.

Dikutip dari Reuters, Selasa (13/11/2018), patokan harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) turun USD 26 sen menjadi USD 59,93 per barel. Penurunan ini menandai penurunan harian ke-11 berturut-turut, terbesar sejak kontrak mulai diperdagangkan, menurut data dari CME Group. pt bestprofit

Minyak mentah Brent berjangka berbalik arah di akhir sesi, turun USD 6 sen menjadi USD 70,12 per barel. Brent juga diperdagangkan lebih rendah dalam aktivitas pasca-penutupan, turun USD 1,13 menjadi USD 69,05 per barel.

“Mudah-mudahan, Arab Saudi dan OPEC tidak akan memotong produksi minyak,” tulis Trump di Twitter. “Harga minyak harus jauh lebih rendah berdasarkan pasokan!” Minyak mentah AS berbalik negatif dan memperpanjang kerugian setelah tweet tersebut.

Harga minyak telah menguat di awal sesi, setelah Arab Saudi mengatakan OPEC dan mitranya percaya bahwa permintaan cukup melunak untuk menjamin pemotongan produksi 1 juta barel per hari (bph) tahun depan. pt bestprofit

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan OPEC dan sekutunya setuju bahwa analisis teknis menunjukkan kebutuhan untuk mengurangi pasokan minyak tahun depan sekitar 1 juta bph dari level Oktober.

Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, mengatakan pada hari Minggu akan memangkas pengirimannya setengah juta bph pada bulan Desember karena permintaan musiman yang lebih rendah.

OPEC dan Badan Energi Internasional bakal merilis laporan bulanan tentang prospek pasokan minyak dan permintaan akhir pekan ini.

Harga minyak telah jatuh sekitar 20 persen pada bulan lalu, terpukul oleh peningkatan pasokan global dan ancaman perlambatan permintaan, terutama dari pelanggan yang mata uangnya melemah terhadap dolar AS sehingga mengikis daya beli mereka.

Produksi dari produsen minyak utama dunia Rusia, Amerika Serikat dan Arab Saudi telah meningkat 1,05 juta bph dalam tiga bulan terakhir. Hal ini membuat OPEC menyesuaikan produksinya yang mencapai sekitar 33,3 juta bph, menyumbang sekitar sepertiga dari pasokan global. pt bestprofit

Sumber : Liputan6

PT Bestprofit | Target Produksi Minyak Pertamina Naik dan Gas

best profit bestprofit pt bestprofit

PT Bestprofit (12/11) – PT Pertamina (Persero) menargetkan produksi minyak pada 2019 sebesar 414 ribu barel perhari (bph). ‎ Sedangkan gas sebesar 2.944 juta kaki kubik perhari (Milion stadar cubic feet per day (MMscfd).

Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Operation Evaluation Pertamina Meidawati mengatakan, pada 2019 target produksi minyak Pertamina 414 ribu bph, lebih tinggi dibanding 2018 400 ribu bph.

Sedangkan target produksi gas pada 2019 sebesar 2944 MMscfd, lebih rendah dibanding 2018 3.069 MMscfd. “Minyak berarti ada kenaikan, gas turun sedikit,” kata Meidawati, dikutip di Jakarta, Minggu (11/11/2018).

Meidawati mengungkapkan penyebab produksi minyak Pertamina tahun depan bisa lebih tinggi, salah satunya seiring meningkatnya produksi minyak di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Bojonegoro. pt bestprofit

Kemudian kenaikan produksi minyak dari sumur yang digarap Pertamina di luar negeri. “Kalau minyaknya naik karena punya dari Banyu Urip naik, dari internasional naik,” tutur dia.

Sementara penyebab Pertamina menurunan target produksi gas tahun depan, karena cadangan pada beberapa sumur di antaranya Blok Mahakam mengalami penurunan.

“Karena ada masalah di Musi, penurunan reservoar, kemudian juga ada penurunan sedikit dari Mahakam,” tandasnya.

Exxon Mobile Cepu Limmited berencana meningkatkan cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Bojonegoro JawaTimur untuk mendorong produksi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, potensi cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip kemungkinan naik. Namun untuk besaran angkanya belum bisa diberikan detail. pt bestprofit

“Banyu Urip itu ada potensi cadangan, kemungkinan naik. Seberapa besar belum tunggu resmi dari Exxon,” kata dia di Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Menurut Arcandra, kenaikan cadangan minyak dapat meningkatan produksi. Namun untuk potensi kenaikan produksi minyak diserahkan kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas).

“Tapi ada kemungkinan kenaikan cadangan dan menigkatkan produksi. ‎Ini yang tahu persis SKK, tapi ada potensi naik yang di-report November ini,” tutur Arcandra.

Dia mengungkapkan, jika langkah menaikkan produksi minyak dari lapangan penyumbang 25 persen produksi minyak nasional tersebut masih dalam kondisi aman. Sebab, kapasitas produksinya masih rendah.

“Produksi 207 – 208 (ribu barel per hari) ya sekarang kapasitas prod 180 (ribu barel per hari) sekarang rendah, naik masih aman. Ke depan kita lihat,” tandasnya. pt bestprofit

Sumber : Liputan6

PT Bestprofit | Pasokan Global Membanjir Bikin Harga Minyak

PT Bestprofit Bestprofit Best Profit

PT Bestprofit (9/11) – Harga minyak mentah dunia turun hampir 2 persen karena investor fokus pada membengkaknya pasokan minyak mentah global, yang meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.

Melansir laman Reuters, Jumat (8/11/2018), harga minyak mentah berjangka Brent, patokan minyak global, turun USD 1,42, atau 1,97 persen, menjadi USD 70,65 per barel, posisi terendah sejak pertengahan Agustus. Sementara harga minyak mentah berjangka AS turun USD 1,00, atau 1,6 persen, menjadi USD 60,67 per barel, terendah sejak 14 Maret.

Pasar fokus pada rekor produksi minyak mentah AS dan sinyal output dari Irak, Abu Dhabi dan Indonesia akan tumbuh lebih cepat daripada yang diperkirakan pada 2019.

Kekhawatiran akan melimpahnya pasokan potensial mengurangi reli di awal sesi yang didorong data China yang menunjukkan adanya rekor impor minyak.

“Ada trifecta masalah yang dibuat oleh stockpile AS, kelebihan produksi OPEC dan berkurangnya sanksi Iran,” kata Bob Yawger, Direktur Berjangka Mizuho di New York.

Adapun impor minyak mentah China tercatat naik menjadi 9,61 juta barel per hari (bpd) pada Oktober, naik 32 persen dari tahun sebelumnya, menurut data bea cukai. pt bestprofit

Cina masih akan diizinkan untuk mengimpor minyak mentah Iran di bawah sanksi AS yang akan memungkinkannya untuk membeli 360.000 bpd selama 180 hari, mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.

Produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi baru sebesar 11,6 juta barel per hari pada minggu terakhir. AS kini telah melampaui Rusia sebagai produsen minyak terbesar dunia.

Lembaga Administrasi Informasi Energi AS mengatakan, pihaknya mengharapkan output minyaknya bisa mencapai ke atas 12 juta bpd pada pertengahan 2019, berkat minyak serpih.

Bahkan dengan sanksi AS terhadap minyak Iran di tempat, investor percaya ada lebih dari cukup pasokan untuk memenuhi permintaan. Pengabaian membuat persepsi di pasar bahwa sanksi tidak dapat membatasi pasokan minyak mentah sebanyak yang diharapkan semula.

Pandangan ini tercermin dalam grafik harga yang menunjukkan perdagangan kontrak berjangka minyak mentah Brent pada Januari hingga Februari.

Struktur harga ini, yang dikenal sebagai contango, terwujud ketika pelaku pasar percaya ada kelebihan pasokan dan memutuskan untuk menyimpan minyak daripada menjualnya. Ini menciptakan kumpulan minyak mentah tak terjual yang lebih besar. pt bestprofit

Beberapa pengamat pasar percaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu termasuk Rusia dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi pasokan.

“OPEC dan Rusia dapat menggunakan (produksi) pemotongan untuk mendukung USD 70 per barel,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.

Lembaga think tank terkemuka yang didanai pemerintah Arab Saudi sedang mempelajari kemungkinan efek pada pasar minyak dari pecahnya OPEC, Wall Street Journal melaporkan pada hari Kamis, mengutip orang-orang yang akrab dengan masalah ini.

Harga minyak tergelincir usai pasokan Amerika Serikat (AS) cetak rekor dan persediaan domestik melebihi dari apa yang diharapkan.

The US Energy Information Administration (EIA) menyatakan persediaan minyak domestik meningkat 5,8 juta barel, melebih dari harapan analis. Hasil produksi sentuh 11,6 juta barel per hari. Produksi mingguan tersebut merupakan rekor. Berdasarkan data Agustus menunjukan produksi lebih dari 11,3 juta barel per hari.

Harga minyak AS melemah 54 sen ke posisi USD 61,67 per barel, hampir dekati 20 persen di bawah rata-rata tertinggi USD 76,41 per barel pada awal Oktober. pt bestprofit

“Pasar masih membuktikan ini dapat berlanjut, jadi dalam jangka pendek masih negatif,” kata Analis Price Futures, Phil Flynn, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (8/11/2018).

Sementara itu, harga minyak Brent susut enam persen menjadi USD 72,07 per barel. Hal itu didorong dari laporan sebelumnya Rusia dan Arab Saudi sedang membahas apakah akan memangkas produksi minyak tahun depan.

Sementara ekspor minyak Iran diperkirakan jatuh usai sanksi AS mulai berlaku pada Senin. Laporan OPEC telah indikasikan pasar minyak global dapat alami surplus pada 2019. Ini karena melambatnya permintaan. AS juga mengabulkan keringanan sanksi Iran kepada delapan negara yang impor minyak negara dari Iran.

“Pasar sekarang akan melihat OPEC dan produsen non OPEC untuk mengendalikan produksi karena AS telah memberikan delapan negara keringanan dari sanksi yang pada dasarnya menambah pasokan,” ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.

Rusia dan Arab Saudi, produsen utama minyak memulai pembicaraan bilateral tentang kembali memangkas produksi minyak pada 2019. Hal itu berdasarkan kantor berita Rusia TASS. Pada Juni, kelompok produsen memutuskan mengendurkan hasil produksi sejak 2017 usai tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

Analis mengatakan negara itu mungkin lebih bersedia untuk memangkas produksi usai pemilihan paruh waktu AS berakhir.

“OPEC merasakan tekanan Trump tetapi produsen mengambil tindakan dengan pemikiran mereka hanya perlu melewati pemilihan AS. Kami berharap untuk mulai dengar komentar publik dari para menteri OPEC pada akhir pekan ini tentang menarik kembali produksi,” kata Analis Hedgeye, Joe McMonigle.

Sebuah komite menteri yang terdiri dari beberapa anggota OPEC dan sekutu bertemu pada Minggu di Abu Dhabi untuk membahas prospek pada 2019. pt bestprofit

Sumber : Liputan6