PT Best Profit Futures Malang

Menanti Rilis Data Ekonomi, Lirik Delapan Saham Pilihan

IHSG

BESTPROFIT FUTURES MALANG (2/2) – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan dipengaruhi rilis data makro ekonomi Indonesia di awal pekan ini. IHSG pun diprediksi dapat melanjutkan penguatan, namun juga dapat berbalik arah jika data ekonomi tidak mampu memberikan sentimen positif.

Analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada menuturkan, IHSG mampu berada di zona hijau namun meninggalkan utang gap 5.266-5.281 sehingga penguatan tersebut masih rentan pembalikan arah. Apalagi sentimen dari rilis data makro ekonomi tidak berhasil memberikan sentimen positif pada pelaku pasar maka aksi jual pun kembali terjadi.

“Tetap cermati perubahan yang terjadi dan waspadai adanya potensi pelemahan lanjutan jika sentimennya masih negatif,” ujar Reza, dalam ulasannya, Senin (2/2/2015).

Ia memprediksi, IHSG akan berada di rentang support 5.263-5.275 dan resistance 5.293-5/305 di awal pekan ini.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono mengatakan, fokus pelaku pasar mencermati data ekonomi seperti inflasi dan neraca perdagangan. Inflasi Januari sebesar 0,24 persen lebih rendah dibandingkan dengan Desember yang cukup tinggi yakni 2,46 persen.

Neraca perdagangan juga diprediksi surplus US$ 200 juta. Selain itu, investor juga akan memasukkan faktor politik seperti KPK dengan Kepolisian RI.

Melihat kondisi itu, IHSG akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat di kisaran 5.272-5.306.

Dalam riset PT Sinarmas Sekuritas menyebutkan, IHSG akan bergerak variatif di kisaran 5.272-5.307 di awal pekan ini. Sejumlah sentimen yang akan pengaruhi laju IHSG antara lain Eropa akan merilis data markit manufacturing PMI yang diperkirakan naik ke level 51 dari sebelumnya 50,6. Selain itu, Amerika Serikat akan merilis data produk domestik bruto (PDB) yang diperkirakan turun ke 3,59 persen dari sebelumnya 5 persen QoQ.

Sedangkan dari dalam negeri akan merilis data inflasi yang diperkirakan ke level 1,69 persen MoM dibandingkan sebelumnya di 2,46 persen serta data neraca perdagangan yang diperkirakan defisit ke US$ 0,3 miliar dari sebelumnya defisit US$ 0,43 miliar.

Sumber : Liputan6