China Turunkan Pembelian Bikin Harga Minyak Tergelincir

news

BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/6) – Harga minyak mentah dunia susut pada Senin (Selasa pagi waktu Jakarta) seiring penurunan permintaan di China dan kekhawatiran keputusan OPEC untuk terus membanjiri pasar dengan pasokan bisa memperpanjang kelebihan stok dunia.

Harga minyak light sweet, untuk pengiriman Juli turun 99 sen (1,7 persen) ke posisi US$ 58,14 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara Brent, patokan minyak global, turun 62 sen (1 persen) menjadi US$ 62,69 per barel di ICE Future Eropa, melansir laman Reuters.

“Jika dolar tidak melemah pada hari ini, harga minyak akan jatuh lebih banyak, mengingat kekhawatiran pasca kebijakan OPEC,” kata Managing Partner Tyche Capital Advisors di Laurel Hollow, New York, Tariq Zahir.

Harga minyak tergelincir usai China, pengimpor minyak terbesar dunia, tercatat hanya membeli sekitar seperempat minyak dari kebutuhannya pada Mei dibandingkan April. Dalam kategori produk minyak, impor turun lebih dari 6 persen, dibandingkan ekspor sebesar 10 persen.

Kilang minyak di China telah dipenuhi lebih banyak stok pada bulan lalu, sehingga membuat negara ini mengurangi impornya. Terhentinya beberapa pabrik pengolahan minyak untuk pemeliharaan juga menjadi pemicu penurunan permintaan.

Namun, beberapa pedagang mengatakan penurunan permintaan impor minyak mentah hingga 26 persen secara bulanan,dari 5,47 juta barel per hari pada Mei dibandingkan April sebesar 7,37 juta barel barel per hari, adalah sebuah anomali.

“Penurunan 4-6 persen dapat diterima untuk musim pemeliharaan kilang di Cina, tetapi 20 persen atau lebih adalah tanda kehancuran permintaan,” kata Bob Yawger, Direktur Energi di Mizuho Securities USA.

Phil Flynn, Analis Price Futures Group, mengatakan penurunan permintaan terus-menerus oleh Cina bisa menjadi game changer, di mana harga minyak berjangka Brent bisa di atas US$ 65 per barel dan minyak mentah berjangka AS di atas US$ 60 per barel.

Di sisi lain, pelemahan dolar hingga 1 persen, membuat harga komoditas dalam dolar, termasuk minyak, lebih terjangkau bagi pemegang euro dan mata uang lainnya.

Harga minyak juga dipicu keputusan OPEC pada Jumat pekan lalu, yang tetap mempertahankan target pasokan sebesar 30 juta barel per hari. Barclays memprediksi surplus pasokan minyak mentah kemungkinan akan bertahan sampai tahun 2015. (Nrm/Igw)

Sumber : Liputan6