PT Best Profit Futures Malang

Category Archives: news

Mengenal Sejarah Emas dari Masa ke Masa | Bestprofit

278582_ilustrasi-emas-batangan_663_382

Bestprofit (19/6) – Belum ada yang tahu kapan tepatnya emas ditemukan. Dari berbagai temuan arkeolog dan penelitian pra sejarah belum juga dapat memastikan kapan manusia pertama kali mulai menambang emas dan digunakan sebagai logam mulia.

Logam mulia juga pernah ditemukan arkeolog di dataran Spanyol, ditemukan di gua-gua dan diperkirakan usia dari logam mulia tersebut berkisar 40.000 SM.

Satu penemuan ini dapat disimpulkan bahwa penemuan emas oleh manusia tidak dapat dipastikan. Emas merupakan logam yang mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan logam logam lainnya.

Terbuat dari jenis logam, emas merupakan logam yang paling lunak dan mempunyai warna berkilau yang tidak dapat pudar dan tahan terhadap korosi.

Seperti mengutip cermati.com, sejak ribuan tahun lalu sebelum masehi, emas sudah menjadi bahan yang melambangkan keagungan dan kejayaan sekaligus kemakmuran. Hiasan tahta emas selalu menjadi bagian dari ornamen sebuah perangkat raja-raja dan bahkan digunakan dalam salah satu bangunan penggalan zaman dahulu.

Sedemikian berharganya emas sehingga kerap kali menimbulkan malapetaka bahkan tidak jarang juga emas menjadi pemicu sebuah perang yang didasari atas kekuasaan.

Pada zaman mesir kuno dan dataran Irak, emas sudah menjadi ornamen. Kemudian ditemukannya koin mas pada zaman mesir kuno sebagai nilai tukar, tepatnya 3000 SM.

Pada tahun 2500 SM juga ditemukan perhiasan yang terbuat dari emas, tepatnya di Arbydos mesir dan lokasi penemuan yang terletak di makam Raja Zer.

Raja Zer adalah Dinasti Raja Mesir Pertama-penemuan ini sekaligus sebuah bukti bahwa emas adalah sebuah simbol dari kejayaan dan keindahan abadi.

Emas dari Zaman ke Zaman

Berbagai literatur dan penemuan yang telah membuktikan bahwa emas adalah logam mulia yang mempunyai daya magis yang luar biasa, magis yang dapat memberikan daya Tarik bagi manusia untuk mendapatkannya.

Seiring perkembanganya, emas menjadi sebuah aset dan tidak hanya dijadikan sebagai perhiasan belaka. Dengan ditemukannya revolusi industri dan penemuan-penemuan modern dalam hal penambangan khususnya penambangan emas menjadikan emas sebuah bahan tambang yang dapat dijadikan nilai tukar sebuah negara.

Pada zaman perang dunia kedua, dikabarkan dalam sebuah kisah. Rezim Hitler telah menghimpun emas untuk menjadikan rezimnya sebagai rezim yang terkuat dunia dengan nilai tukar yang dia miliki untuk dapat melakukan berbagai macam ekspansi.

Emas yang dihasilkan dari jarahan dan para korban yang akan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Harta mereka diambil dan dilebur. Cerita ini sudah lama menjadi hal yang masih misteri. Masih banyak emas jarahan Rezim Nazi yang belum ditemukan.

Perjalanan emas dari zaman ke zaman mengalami berbagai macam fungsi dan kegunaan. Tapa mengurangi nilai emas itu sendiri sebagai logam mulia. Selain sebagai simbol sebuah kekayaan, emas pada Zaman Mesir menjadi alat tukar sebagai perdagangan dengan negara lain.

Pada zaman perdagangan tahun 1800 – dengan 1900-an, fungsi emas sebagai alat tukar masih digunakan sebagai alat tukar untuk melakukan perdagangan dengan negara lain.

Sampai pada akhirnya fungsi emas hanya berfungsi sebagai perhiasan dan pertukaran perdagangan antar negara yang sudah diakui oleh dunia internasional. Pada zaman di era abad ke 21 emas menjadi sebuah pilihan untuk berinvestasi.

Dengan berkembangnya teknologi dalam pertambangan, logam mulia ini semakin banyak dihasilkan oleh banyak perusahaan tambang.

Di Indonesia sendiri perusahaan tambang milik negara adalah PT Aneka Tambang atau biasa disingkat dengan Antam. Selain itu beberapa perusahaan dari luar negeri juga melakukan tambang dengan kontrak kerja khusus dengan pemerintah. Salah satunya yang terkenal adalah Freeport di Papua dan Martabe di Sumatera.

Sumber : Liputan6

Bursa Wall Street Tergelincir, Saham Teknologi | Best Profit

USD-30-800-540-700x357

Best Profit (16/6) – Bursa saham A.S. ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat dinihari (16/06) terganjal lagi kinerja buruk saham teknologi besar.

Indeks Dow Jones turun sekitar 15 poin, dengan Goldman Sachs memberikan kontribusi paling banyak dalam kerugian. Indeks 30-an saham ini sempat turun lebih dari 100 poin di awal sesi.

Indeks S & P 500 turun 0,2 persen dengan teknologi informasi turun 0,5 persen; Sektor ini sempat turun lebih dari 1 persen.

Indeks Nasdaq turun sekitar 0,5 persen setelah jatuh lebih dari 1 persen sebelumnya pada hari Kamis.

Saham Facebook, Amazon, Apple dan Netflix semuanya ditutup lebih rendah. Snap, sementara itu, ditutup 4,92 persen lebih rendah pada $ 17 per saham, dari harga IPO-nya. Saham Alphabet juga turun setelah diturunkan oleh analis di Canaccord Genuity.

Teknologi telah merosot tahun ini, dengan sektor teknologi S & P naik sekitar 18 persen dengan mudah mengungguli industri lainnya.

Awal pekan ini teknologi menyelesaikan penurunan dua hari terbesar sejak Desember.

Data ekonomi terbaru mengecewakan. Bulan lalu, ekonomi A.S. menambahkan 138.000 pekerjaan, jauh di bawah kenaikan yang diharapkan sebesar 185.000. Sementara itu, Departemen Perdagangan mengatakan pada hari Rabu bahwa penjualan ritel turun 0,3 persen di bulan Mei, menandai penurunan satu bulan terbesar sejak Januari tahun lalu. Penurunan tiba-tiba membingungkan para ekonom, yang memperkirakan kenaikan 0,1 persen.

Investor juga terus mencerna keputusan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dan menyusun rencana untuk melepaskan neraca senilai $ 4,5 triliun.

Bank sentral A.S. menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini, seperti yang diperkirakan secara luas, namun beberapa investor meragukan rencana the Fed.

Pada hari Rabu, Departemen Tenaga Kerja mengatakan indeks harga konsumen – ukuran kunci inflasi – turun 0,1 persen di bulan Mei. Data tersebut menyeret imbal hasil 10 tahun ke level terendah dalam tujuh bulan. Pada hari Kamis, imbal hasil melonjak mendekati 2,16 persen.

Menurut analis, The Fed akan mulai mengurangi neraca pada bulan September, yang berarti kenaikan suku bunga berikutnya mungkin tidak sampai Desember.

Ada banyak data ekonomi yang dirilis pada hari Kamis, termasuk klaim pengangguran mingguan, yang mencapai 237.000.

Indeks bisnis Philadelphia Fed mencapai 27,6 di bulan Juni, sementara survei manufaktur Empire State mencapai 19,8.

Indeks Dow Jones turun 14,66 poin atau 0,07 persen menjadi ditutup pada 21.359,90, dengan penurunan tertinggi saham Nike dan kinerja terbaik saham General Electric.

Indeks S & P 500 tergelincir 5,46 poin atau 0,22 persen, berakhir pada 2.432,46, dengan bahan memimpin tujuh sektor lebih rendah dan utilitas sebagai terbaik.

Indeks Nasdaq merosot 29,39 poin atau 0,47 persen, ditutup pada 6.165,50.

Malam nanti akan dirilis data ekonomi perumahan Housing Starts dan Building Permits Mei yang diindikasikan meningkat. Juga akan dirilis data Michigan Consumer Sentiment Juni yang diindikasikan stabil.

Sumber : Vibiznews

Wall Street Bervariasi Usai The Fed Naikkan | PT Bestprofit

007030700_1410989447-FOTO

PT Bestprofit (15/6) – Saham teknologi kembali tertekan sehingga mendorong indeks saham Nasdaq ke zona merah diikuti indeks saham S&P. Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street pun bervariasi.

Selain itu, investor khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi usai angka inflasi lebih rendah dan kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve turut mempengaruhi wall street.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones naik 46,09 poin atau 0,22 persen ke level 21.374,56. Indeks saham S&P 500 tergelincir 2,43 poin atau 0,10 persen ke level 2.437,92 dan indeks saham Nasdaq melemah 25,48 poin atau 0,41 persen ke level 6.194,89.

Pergerakan wall street juga dipengaruhi sentimen the Federal Reserve. Bank sentral AS tersebut kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Juni. Dalam pertemuan bank sentral AS itu juga menyatakan kalau pertumbuhan ekonomi dan data tenaga kerja AS akan menguat.

Namun, investor khawatir dengan pernyataan the Fed yang agresif dan mempertimbangkan menaikkan suku bunga kembali.

Selain itu, aksi jual masih terjadi di sektor saham teknologi juga menekan sektor itu. Sektor saham teknologi turun 0,5 persen. Sektor saham teknologi telah naik 18 persen pada 2017.

“Ini dimulai pada pekan lalu ketika perdagangan saham begitu padat. Kini semakin gugup di pasar saham, dan terjadi aksi jual,” ujar William Delwiche, Investment Strategist Robert W.Baird and Co, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (15/6/2017).

Data ekonomi juga menunjukkan kalau harga konsumen secara tak terduga turun pada Mei, dan penjualan ritel cetak penurunan terbesar dalam 16 bulan.

“Saham teknologi yang melemah juga didorong pertumbuhan ekonomi melambat atau komponen software dan peralatan lainnya juga turun. Aksi jual di sektor teknologi seiring kekhawatiran terhadap prediksi pertumbuhan perusahaan teknologi ke depan usai the Fed menaikkan suku bunga,” kata Daniel Morgan, Portfolio Manager Synovus Trust.

Sektor keuangan yang tertekan pada tahun ini mendapatkan dampak positif dari kenaikan suku bunga bank sentral AS. Sektor keuangan naik 0,2 persen. Kemudian sektor saham energi melemah 1,8 persen didorong harga minyak tertekan.

Adapun volume perdagangan saham di bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mencapai 7,1 miliar saham. Angka ini di atas rata-rata perdagangan saham sekitar 6,8 miliar saham.

Sumber : Liputan6