PT Best Profit Futures Malang

Category Archives: news

Orang Nomor Satu di Uber Lengser | Bestprofit

065925500_1441945361-uber_ceo_travis_kalanick_getty_images

Bestprofit (22/6) – CEO sekaligus pendiri Uber Travis Kalanick, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Padahal awalnya pendiri layanan transportasi online ini cuma ingin cuti sejenak di saat perusahaan tengah berbenah. Cuti panjang Kalanick juga tak lepas dari rujukan dewan direksi Uber.

Kini, dengan mundurnya orang nomor satu di Uber tersebut, perusahaan berharap Uber bisa membawa perubahan kultur perusahaan yang positif. Uber, dalam hal ini diwakili dewan direksi, mengatakan keputusan Kalanick adalah langkah yang berani. Menurut mereka, Kalanick sudah mengambil keputusan terbaik.

“Travis selalu menganggap Uber sebagai prioritasnya. Ia benar-benar berani dan berhasil menunjukkan dedikasi dan kecintaannya terhadap perusahaan,” tulis dewan direksi Uber sebagaimana Tekno Liputan6.com kutip via New York Times, Kamis (22/6/2017).

“Kami yakin, setelah Kalanick mundur, ia pasti akan memiliki waktu lebih banyak untuk pulih dari duka yang ia alami. Ia pasti rela memberikan kami ruang untuk bisa melangkah menyongsong babak baru dalam sejarah Uber. Kami pun tetap menerima kehadiran Travis di dalam dewan,” begitu bunyi lanjutannya.

Hengkangnya Kalanick sebagai CEO Uber disertai alasan kuat. Pada Selasa (20/6/2017), lima investor utama Uber meminta Kalanick untuk mengundurkan diri. Salah satu investor yang meminta Kalanick mundur adalah pemegang saham terbesar Uber dari perusahaan ventura Benchmark bernama Bill Gurley.

Surat rekomendasi hengkangnya Kalanick dikirimkan ke dirinya saat sedang cuti di Chicago. Dalam sebuah surat bertajuk “Moving Uber Forward” itu, para investor meminta kepada Kalanick untuk segera mundur sebab perusahaan memerlukan perubahan kepemimpinan.

Kalanick kemudian berkonsultasi dengan anggota dewan direksi dan investor Uber. Selanjutnya, Kalanick pun setuju untuk mengundurkan diri. Meski begitu, ia akan tetap berada di dewan direksi Uber setelah mengundurkan diri.

Dalam pernyataannya, Kalanick mengatakan kalau ia begitu mencintai Uber dan berat untuk mundur dari posisinya. “Saya sangat mencintai Uber melebihi apa pun di dunia ini. Ini adalah saat yang sangat sulit dalam hidup saya. Saya harus menerima permintaan dari para investor untuk mundur, agar Uber bisa terus berkembang dan tidak terganggu dengan konflik lainnya,” ujar Kalanick.

Langkah Kalanick selama memimpin Uber kerap dipertanyakan, lantaran dianggap sebagai contoh kekacauan sebuah startup di Silicon Valley. Dalam beberapa bulan terakhir, Uber mengalami cukup banyak masalah Mulai dari pelecehan seksual, pemecatan karyawan, budaya perusahaan, hingga lelucon yang berbau seksisme.

Kegagalan Travis Kalanick dimulai sejak awal tahun, yakni setelah seorang engineer wanita di Uber mengungkap dirinya mengalami pelecehan seksual di perusahaan. Hal itu pun memicu munculnya keluhan lain yang serupa dan membuat perusahaan melakukan penyelidikan internal.

Tak hanya masalah internal, Uber dilaporkan juga tengah menangani tuntutan hak kekayaan intelektual atas Waymo, sebuah proyek otonomos di bawah Alphabet.

Pihak Uber akhirnya memulai perubahan besar untuk membuat lingkungan kerjanya lebih profesional. Kini Uber juga dilaporkan sedang mencari COO, termasuk juga untuk menempati posisi CEO yang kosong karena mundurnya Kalanick.

Sumber : Liputan6

MotoGP Belanda: Pedrosa Waspadai Cuaca di Assen | Best Profit

008984400_1497969823-000_PG7GG

Best Profit (21/6) – MotoGP 2016 adalah musim di mana banyak tercipta kejutan. Cuaca menjadi faktor utama yang mempengaruhi tren tersebut. Hampir di setiap balapan musim lalu cuaca begitu sulit diprediksi.

Salah satu seri yang ikut dipengaruhi faktor cuaca adalah MotoGP Belanda 2016 di Sirkuit Assen. Di awal balapan, sirkuit masih dalam kondisi kering. Namun, balapan terpaksa dihentikan sementara setelah hujan deras turun.

Pada akhirnya, balapan pun diulang dan hanya berlangsung 12 lap. Pembalap yang merebut podium juara dalam kondisi itu adalah Jack Miller dan LCR Honda. Sisanya, ada delapan pembalap yang gagal mencapai garis finis, termasuk Valentino Rossi.

Selama ini cuaca di Assen memang begitu sulit ditebak. Perubahan cuaca bisa terjadi dalam waktu cepat. Hal itu pun disadari pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa. Jelang MotoGP Belanda 2017, Minggu (25/6/2017), ia berharap bisa melaju kencang dalam kondisi apa pun.

“Balapan ini biasanya membutuhkan banyak konsentrasi, harus siap menangani situasi apa pun sepanjang akhir pekan. Anda tak pernah tahu berapa lama Anda akan melaju di trek kering,” kata Pedrosa, dilansir Tuttomotoriweb.

Pedrosa pun termasuk pembalap yang dirugikan cuaca pada MotoGP Belanda 2016. Pembalap asal Spanyol itu hanya bisa finis di urutan ke-12, terpaut 1 menit 54,369 detik dari Miller. Sialnya lagi, Pedrosa juga punya catatan buruk setiap kali beraksi di Assen.

Tren Buruk Pedrosa

Ya, pembalap berusia 31 tahun itu tak pernah meraih juara di Assen sejak 2003. Satu-satunya podium juara yang direngkuh Pedrosa di Assen adalah ketika ia masih turun di kelas 125cc pada musim 2002.

“Anda harus memberikan yang terbaik dari setiap sesi. Kami berada di jalur yang saya suka dan kami harus mendorong sejak Jumat pagi dengan memberikan yang terbaik. Itu agar kami bisa berada di depan untuk berjuang pada hari Minggu,” ujar Pedrosa.

Di musim ini rapor Pedrosa sendiri sudah cukup baik. Sayang ia sudah melewatkan dua balapan tanpa meraih poin, yakni ketika gagal finis di Austin dan Italia. Lima balapan lainnya mampu dimaksimalkan Pedrosa dengan merebut empat podium.

Sumber : Liputan6

Ekspedisi Uranus dan Neptunus Dimulai 2030 | PT Bestprofit

061608600_1440907788-TheIceGiants

PT Bestprofit (20/6) – Setelah Mars, Jupiter, Saturnus, dan Pluto, NASA mulai fokus untuk menyiapkan proyek besar mengekspedisi planet Uranus dan Neptunus.

Proyek yang sebetulnya sudah direncanakan sejak September 2015 itu baru bisa direalisasikan sekarang. Bagaimana pun, NASA masih harus menggagas sejumlah inovasi teknologi mumpuni, agar pesawat luar angkasanya bisa terbang ke orbit planet berjuluk ‘Planet Kekasih’ tersebut.

Jadi, jika dihitung-hitung, ekspedisi Uranus dan Neptunus baru bisa dimulai pada 2030. Itu juga baru Uranus. Sementara untuk Neptunus, kemungkinan besar dimulai pada pertengahan 2030 atau setelah 2040.

Menurut informasi yang Tekno Liputan6.com kutip via laman BGR, Senin (19/6/2017), tujuan utama ekspedisi dilakukan tak lain adalah untuk memantau ekosistem kedua planet.

Tak cuma itu, Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut juga ingin mencari tahu material planet terbuat dari apa, serta komposisi atmosfer yang melapisi planet.

Para ilmuwan NASA juga berharap, ekspedisi bisa meneliti iklim planet secara keseluruhan. Jika proses penelitian rampung, barulah mereka dapat menyimpulkan seperti apa bobot kontribusi kedua planet ini terhadap Tata Surya.

Secara mekanisme, NASA nantinya akan mengirim probe (pesawat kecil) untuk terjun ke dalam atmosfer planet dan mengambil sampel gas yang terkandung di dalamnya. Sama halnya dengan ekspedisi planet lain, probe akan mengirimkan data dari sampel yang diambil ke Bumi untuk diteliti secara mendalam.

Terkait kesiapan wahana ekspedisi, NASA kini tengah melakukan penelitian di Jet Propulsion Laboratory (JPL) untuk merancang pesawat antariksa Uranus dan Neptunus, yang juga akan rampung setidaknya pada 2030.

Salah satu kendala utama proses pembuatan pesawat antariksa anyar ini adalah besarnya dana penelitian dan pengembangan, yang diprediksi bisa mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.

Dibanding dengan misi-misi NASA sebelumnya, seperti Discovery atau New Frontier, misi ekspedisi Uranus dan Neptunus ini justru memakan biaya yang lebih besar.

“Yang menjadi persoalan besar bagi kami agar dapat menjalankan misi ke Neptunus dan Uranus adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan,” kata Jim Green, kepala divisi Planetary Science NASA.

Rencana NASA menerbangkan pesawat antariksa untuk mempelajari secara mendalam planet Uranus dan Neptunus, sejatinya sudah direncanakan sejak 26 tahun lalu. Namun, hal tersebut baru bisa direalisasikan sekarang. Pasalnya, NASA terbentur banyak masalah dan menantikan dukungan pendanaan besar.

Selain persoalan dana, misi ekspedisi menuju duo planet es tersebut juga terhalang persoalan persediaan Plutonium yang menjadi bahan bakar baku pesawat antariksa.

“Penerbangan ke Uranus dan Neptunus akan bergantung ke alat baterai nuklir yang akan ditenagai plutonium,” jelas Green.

Sampai saat ini, para ilmuwan hanya bisa berspekulasi, bahwa Uranus dan Neptunus terdiri dari bebatuan, es, dan ammonia (kumpulan hidrogen dan nitrogen), sehingga kedua planet ini juga kerap mendapat julukan planet es raksasa.

Sumber : Liputan6