PT Best Profit Futures Malang

BOJ Khawatir Momentum Pemulihan Ekonomi Jepang

japanboj-700x357

Hingga hari ini nampaknya kebijakan moneter longgar dan agresif yang masih diberlakukan oleh Bank of Japan (BOJ) cukup memberikan dampak positif terhadap perekonomian Jepang. Seperti diketahui bahwa pada kuartal pertama tahun ini saja secara tidak terduga laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang berhasil mencetak rebound sebesar 3,9 persen. Namun harus dipahami bahwa momentum ease money policy oleh BOJ ini akan ada saatnya berada di titik jenuh.

Apa yang dimaksud oleh BOJ ini sama seperti law of diminishing returns, dimana ini adalah sebuah hukum alami dalam ekonomi yang menjelaskan tentang proporsi input yang tepat untuk mendapatkan output maksimal. Teori ekonomi ini menjelaskan bahwa ketika input yang kita miliki melebihi kapasitas produksi dari input, maka return akan semakin menurun. Secara sederhana artinya jika suatu input sudah berada pada skala maksimal, maka ia tidak lantas akan terus menerus menghasilkan output yang maksimal,akan ada masanya dimana input maksimal namun output cenderung terus menurun.

Menyadari hukum alam tersebut, BOJ pun tidak segan-segan memperingatkan bahwa jika Jepang mengandalkan perekonomiannya hanya dari kebijakan moneter BOJ maka para pelaku pasar harus bersiap-siap juga untuk menghadapi kondisi terburuknya, yaitu ketika momentum kebijakan ini secara perlahan surut pengaruhnya dalam menyokong perekonomian Jepang. Oleh karena itulah kemajuan dalam kesehatan fiskal Jepang menjadi faktor yang sangat penting bagi keberhasilan pelonggaran kuantitatif dan kualitatif (QQE).

Harus diakui bahwa penguatan ekonomi Jepang yang terjadi saat ini bukanlah karena kondisi fiskalnya yang membaik. Hingga saat ini jumlah utang publik Jepang masih menyandang gelar yang terbesar di dunia. Kenaikan pajak penjualan yang seharusnya dinaikkan tahun ini pun ditunda Abe dengan alasan kondisi ekonomi Jepang masih belum pulih betul paska kenaikan pajak penjualan di bulan April tahun lalu, sehingga jika pajak penjualan kembali dinaikkan tahun ini, Jepang berpotensi mengalami resesi kembali. Terkait hal ini Abe dan menteri-menterinya dikabarkan akan menyusun rencana fiskal terbarunya di bulan ini untuk memenuhi target ambisius surplus anggaran pada tahun 2020 mendatang.

Sebagai informasi saja bahwa hingga bulan lalu, BOJ masih memutuskan tetap mempertahankan stimulus moneter besar-besarannya. Keputusan BOJ ini cukup mencerminkan bagaimana optimisme para pemangku kebijakan moneter di Jepang terhadap pertumbuhan ekonomi negaranya yang cukup terangkat selama kebijakan moneter longgar dan program QQE dijalankan.

Sumber : Vibiznews