PT Best Profit Futures Malang

^N225 14283.72-112.32 – -0.78% ^FTSE 6725.82+4.48 – +0.07% ^HSI 22775.971-30.609 – -0.13% ^KS11 2042.32-5.82 – -0.28% ^IXIC 3940.129-3.232 – -0.08% ^JKSE 4555.492-35.046 – -0.76% ^JKLQ45 764.511-8.308 – -1.08% CLK12.NYM N/A – N/A PAL 1.07+0.0015 – +0.16% PLG 2.00-0.02 – -1.74% COCO 2.64-0.025 – -1.00% GCJ12.CMX N/A – N/A WP Stock Ticker


Harga Minyak Naik di Tengah Isu Kenaikan Pasokan | Best Profit

042589400_1436217805-harga-minyak-mentah-merosot-130413b

Best Profit (24/2) – Harga minyak dunia naik terbatas pada perdagangan Kamis. Stok minyak di Amerika Serikat sedikit naik. Kenaikan harga minyak terpaksa harus dipangkas setelah pemerintah data Amerika Serikat menunjukkan ada pasokan yang bertambah, hal ini bisa memengaruhi komitmen dari para anggota OPEC untuk memangkas produksi.

Harga minyak acuan Brent naik 81 sen per barel ke level US$ 56,65 setelah menyentuh level US$ 57,26.

Kemudian harga minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate juga naik 75 sen ke level US$ 54,34 per barel setelah menyentuh level US$ 54,94 per barel.

Kedua minyak acuan tersebut masing-masing hampir berada di puncak US$ 4, menggambarkan periode volatilitas rendah sejak OPEC sepakat memangkas produksi.

OPEC dan produser termasuk Rusia bermaksud memangkas produksi sekitar 1,8 juta barel per hari untuk menghentikan kelebihan pasokan yang membuat harga turun selama lebih dari 2 tahun.

Namun beberapa analis menilai bahwa pasar perdagangan khawatir, terutama sejak kepatuhan di antara negara-negara anggota OPEC untuk memangkas produksi, sedikit terbalik.

“Jika seseorang mengatakan bahwa pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC akan berhasil dan mencatat sejarah, Anda akan berharap harga bisa mencapai US$ 60 atau US$ 65 per barel,” ujar Tariq Zahir, analis Tyche Capital Advisors dilansir dari reuters, Jumat (24/2/2017).

“Kita sudah mencapai 90 persen kepatuhan. Bagaimana jika angka itu turun ke 80 atau 85 persen?” imbuhnya.

Sumber : Liputan6

Upaya Pemerintah Tingkatkan Ketahanan Energi | PT Bestprofit

069844200_1487762648-Kilang_Balongan__1_

PT Bestprofit (23/2) – Pemerintah berkomitmen untuk terus mewujudkan ketahanan energi, salah satunya dengan pembangunan dan peningkatan kapasitas kilang nasional. Saat ini Indonesia memiliki dua belas kilang, dimana tujuh di antaranya merupakan kilang Pertamina.

“Kapasitas kilang terpasang saat ini sekitar 1,17 juta barel per hari. Ini sudah bertahun-tahun tidak tumbuh dan arahan Bapak Presiden bahwa sekurangnya kebutuhan nasional itu kapasitas kilangnya harus sama dengan kebutuhan nasional,” ujar Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, dalam rancangan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), direncanakan kapasitas kilang nasional ditingkatkan menjadi lebih dari 2 juta bpd pada tahun 2025.

Kementerian ESDM pun telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 35 tahun 2016 tentang Pembangunan Kilang oleh Swasta. Regulasi ini untuk mempercepat dan memudahkan pembangunan kilang baru.

Kilang Balongan merupakan Kilang pertama dan terbesar di Indonesia yang menghasilkan bensin ramah lingkungan. Kilang Balongan telah melakukan pengembangan teknologi dengan membangun Kilang Langit Biru Balongan (KLBB) pada tahun 2005. Produk-produk unggulan yang dihasilkan Kilang Balongan antara lain Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Solar, Pertamina DEX, Kerosene (Minyak Tanah), LPG, dan Propylene.

Kilang Balongan merupakan satu-satunya kilang penghasil Pertamax Plus di Indonesia, dan telah menjadi pioneer kilang penghasil solar (Pertadex) berstandar EURO II yang ramah lingkungan di Indonesia dengan spesifikasi cetane index minimal 50 dan kandungan sulfur kurang dari 300 ppm.

Kilang Balongan mempunyai nilai strategis dalam menjaga kestabilan pasokan BBM ke DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat dan sekitarnya yang merupakan sentra bisnis dan pemerintahan Indonesia.

Beberapa waktu lalu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, bersama Menteri BUMN, Rini Soemarno, didampingi Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Yeni Andayani, melakukan kunjungan kerja ke Kilang Balongan yang di kelola oleh PT. Pertamina (Persero) di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Kamis (16/2).

Kilang yang telah beroperasi sejak tahun 1994 ini memiliki kapasitas sebesar 125 ribu barel per day (bpd).

Kunjungan tersebut sekaligus melaksanakan groundbreaking Proyek Submarine Pipe Line (SPL) dan Single Point Mooring (SPM) Refinery Unit (RU) VI Balongan. SPM adalah fasilitas terapung tempat bertambatnya kapal di laut, sekaligus berfungsi sebagai penyalur minyak dari kapal yang bertambat ke pipa offshore, dan fasilitas onshore atau sebaliknya.

Cakupan dari proyek ini antara lain menggantikan dan meningkatkan SPM berkapasitas 150.000 Deadweight Tonnage (DWT) menjadi kapasitas 165.000 DWT, pipa offshore jaringan ganda 32”, pipa onshore pipeline, dan fasilitas flushing system.

Proyek SPL dan SPM akan mendukung peningkatan kehandalan dan efektifitas operasional Kilang Balongan, yang ditargetkan selesai pada September 2018.

Proyek SPL dan SPM dilakukan juga untuk mendukung Refinery Development Master Plan (RDMP), dimana Kilang Balongan merupakan satu dari empat kilang yang akan direvitalisasi sesuai RDMP tersebut.

“Salah satu proyek RDMP yang akan dijalankan yaitu kilang Balongan dengan investasi US$ 1,2 miliar, dimulai tahun 2017 dan diharapkan selesai tahun 2020. RDMP tersebut akan meningkatkan kapasitas kilang Balongan dari 125 ribu bpd menjadi 240 ribu bpd.” ungkap Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina, Yenni Andayani.

Sumber : Liputan6

Rencana Perpanjangan Pemotongan Produksi OPEC | Bestprofit

042589400_1436217805-harga-minyak-mentah-merosot-130413b

Bestprofit (22/2) – Harga minyak kembali naik pada perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan tersebut adalah komentar dari pemimpin organisasi dari negara-negara pengekspor minyak (OPEC) yang mendorong investor untuk kembali bertaruh jika pasokan bakal penyusut dan harga terus merangkak naik.

Mengutip Wall Street Journal, Rabu (22/2/2017), harga mentah AS untuk pengiriman Maret naik 81 sen atau 1,5 persen ke level US$ 54,21 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan untuk kontrak April juga naik 84 sen atau 1,6 persen ke US$ 54,62 per barel. Sedangkan harga minyak Brent, yang menjadi patokan global, naik 72 sen atau 1,3 persen ke angka US$ 56,90 per barel di ICE Futures Europe.

Beberapa analis menyebutkan bahwa OPEC baru saja memberikan sinyak untuk memperpanjang pemotongan produksi. Pemotongan produksi tersebut berdasarkan target pengurangan persediaan minyak global. Rencana perpanjangan pemotongan produksi tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal OPEC saat mengadakan pertemuan di London, Inggris.

Para pelaku pasar pun sangat optimistis dengan perjanjian OPEC yang telah berjalan hampir dua bulan ini. Dalam kesepakatan awal OPEC memastikan akan memangkas produksi global sebesar 1,8 juta barel per hari. OPEC menjanjikan pemotongan tersebut akan berlangsung selama enam bulan atau sejak awal tahun hingga akhir Juni nanti.

Selain OPEC, beberapa negara produsen minyak yang tak bergabung dengan organisasi tersebut juga berjanji akan mengurangi produksi. Hal tersebut untuk mengatasi penurunan harga minyak yang telah terjadi sejak pertengahan 2014 sampai dengan akhir 2016 kemarin.

Realisasi dari pemotongan produksi tersebut telah terlihat dalam harga minyak. Dengan perjanjian pemotongan produksi tersebut membawa harga minyak kembali ke posisi tertinggi selama 19 bulan terakhir.

“OPEC sekali lagi membicarakan soal kenaikan harga. Namun memang tidak ada yang baru sama sekali dalam pembicaraan tersebut,” jelas analis iiTrader dalam catatannya kepada klien.

Sementara Robbie Fraser, analis komoditas di Schneider Electric SA, Louisville, AS mengatakan bahwa ada beberapa sinyal jika OPEC akan memperpanjang perjanjian pengurangan produksi tersebut. Tentu saja hal tersebut membawa optimisme kepada pelaku pasar. Harga minyak kembali terdorong dengan adanya sinyal-sinyal dari OPEC tersebut.

Untuk diketahui, harga minyak sempat berada di posisi US$ 110 per barel pada awal 2014 lalu. Level tersebut merupakan level tertinggi dalam sejarah,

Sumber : Liputan6